KUKAR, LINGKARKALTIM: Konferensi Kabupaten (Konferkab) ke-3 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kutai Kartanegara resmi menetapkan Andi Wibowo sebagai Ketua PWI Kukar periode 2025–2028.
Pemilihan yang berlangsung pada Minggu (28/12/2025) tersebut menjadi momentum penting bagi arah baru organisasi kewartawanan di Kukar dalam menghadapi tantangan pers di era digital dan keterbukaan informasi.
Ia terpilih dengan perolehan 17 suara. Mengungguli kandidat lainnya yaitu Bambang Irawan 12 suara, Ufqil Mubin 1 suara, serta Muhammad Rafi’i tidak memperoleh suara.
Usai terpilih, pria yang kerab disapa Awi itu berkomitmen untuk membawa PWI Kukar menjadi organisasi yang profesional, berintegritas, dan sejahtera.
Visi tersebut, lanjut dia, akan menjadi pijakan utama dalam menjalankan roda organisasi selama tiga tahun ke depan.
“Kepercayaan publik terhadap pers hanya bisa dijaga jika wartawannya profesional dan berpegang teguh pada etika jurnalistik,” ucapnya.
Awi menekankan bahwa penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci utama dalam menjaga marwah pers.
Profesionalisme wartawan, kata dia, tidak bisa dibangun secara instan, melainkan harus melalui proses berkelanjutan berupa peningkatan kompetensi, penguasaan keterampilan jurnalistik, serta pemahaman yang kuat terhadap kode etik.
Untuk merealisasikan visi tersebut, ia telah merumuskan sejumlah misi strategis yang akan dijalankan selama masa kepengurusannya.
Salah satunya adalah meningkatkan profesionalisme wartawan melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, baik dalam bentuk uji kompetensi, workshop, maupun diskusi jurnalistik.
“Di antaranya dengan meningkatkan profesionalisme wartawan melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, serta memperkuat peran PWI dalam advokasi dan perlindungan anggota,” terang Awi.
Selain penguatan internal, ia menilai pentingnya membangun kemitraan yang sehat dan konstruktif dengan pemerintah daerah, stakeholder, serta masyarakat luas.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa kemitraan tersebut tidak boleh menggerus independensi pers sebagai pilar demokrasi.
“Kemitraan harus dibangun secara profesional, saling menghormati peran masing-masing, tanpa menghilangkan independensi pers,” tegas dia.
Tidak hanya itu, isu kesejahteraan wartawan juga menjadi perhatian serius dalam kepemimpinannya.
Menurutnya, kesejahteraan dan kemandirian ekonomi wartawan memiliki korelasi langsung dengan kualitas kerja jurnalistik yang dihasilkan.
“Tak lain, memperjuangkan peningkatan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi wartawan, sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya meningkatkan kualitas kerja jurnalistik,” pungkasnya. (ASR)










