KUKAR, LINGKARKALTIM: Desa Teluk Dalam, Kecamatan Tenggarong Seberang, semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu sentra UMKM tradisional di Kutai Kartanegara (Kukar).
Berbagai produk khas seperti kue keroncong, kue bolu, kue cincin, elat sapi, hingga gula merah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun pendatang yang melintas.
Lokasinya yang strategis, menghubungkan Kabupaten Kukar dengan Kota Samarinda menjadikan kawasan ini sebagai titik singgah favorit untuk membeli oleh-oleh khas daerah.
Kondisi tersebut sekaligus mendorong pemerintah daerah untuk terus memperkuat ekosistem usaha masyarakat setempat.
Plt. Kepala Disperindag Kukar, Sayid Fathullah, mengatakan pemerintah daerah berkomitmen memberikan dukungan berkelanjutan untuk memajukan UMKM, termasuk di Teluk Dalam.
Salah satu program andalan dalam mendukung pelaku usaha ialah, Kredit Kukar Idaman (KKI) yang disalurkan melalui Bankaltimtara sebagai fasilitas permodalan tanpa persyaratan yang memberatkan.
“UMKM tradisional di Teluk Dalam ini punya potensi besar. Pemerintah daerah ingin memastikan pelaku usaha mendapatkan akses permodalan yang mudah, cepat, dan tepat sasaran. Program KKI hadir untuk mendorong mereka naik kelas,” kata Sayid Fathullah pada Lingkarkaltim, di Tenggarong, Minggu (30/11/2025).
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus hadir dengan berbagai program pemberdayaan yang dapat menyesuaikan kebutuhan masing-masing pelaku usaha. Baik bagi UMKM yang membutuhkan permodalan maupun mereka yang membutuhkan fasilitas dan pendampingan.
“Kami ingin semua pelaku UMKM bisa tumbuh berdasarkan kenyamanan dan kemampuannya. Tidak harus meminjam jika belum siap. Yang terpenting, pemerintah daerah akan terus memberikan opsi dukungan yang paling relevan,” tegasnya.
Salah satu pelaku UMKM yang merasakan dampak positif program tersebut adalah Sisilia Erawani, pengusaha kue keroncong yang sudah menekuni usaha sejak lama.
Ia mengaku perkembangan usahanya semakin pesat berkat dukungan pemerintah daerah melalui fasilitas permodalan dan sarana dagang.
“Saya memanfaatkan KKI sebesar lima juta rupiah. Syaratnya mudah, yang penting punya usaha dan kelengkapan dokumen seperti KTP dan buku nikah. Modal itu sangat membantu untuk membeli peralatan dan meningkatkan produksi,” jelasnya.
Selain bantuan modal, Sisilia juga mendapatkan rombong serta tempat berjualan khusus di kawasan Simpang Odah Etam (SOE). Dengan dukungan fasilitas tersebut, omzet hariannya kini mencapai 300–500 ribu rupiah.
“Saya berharap, dengan penguatan modal usaha ini, bisa menjadikan produk yang berkualitas dan naik kelas,” harapnya. (Adv/Kik)










