Kukar Siapkan Industri Arang Halaban pada 2026

Plt. Kepala Disperindag Kukar Sayid Fathullah. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
Plt. Kepala Disperindag Kukar Sayid Fathullah. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperluas fokus hilirisasi komoditas lokal.

Setelah minyak makan merah, pakan ikan, hingga produk kelautan, kini giliran arang halaban yang masuk ke dalam agenda strategis pembangunan industri daerah tahun 2026.

Read More
banner 300x250

Plt. Kepala Disperindag Kukar, Sayid Fathullah mengungkapkan bahwa arang halaban menjadi salah satu komoditas potensial yang selama ini kurang tersentuh industrialisasi.

Rencana hilirisasi ini tidak muncul tiba-tiba. Pemerintah desa sudah melakukan penjajakan, termasuk mempelajari karakteristik serta ketersediaan bahan baku kayu halaban di berbagai wilayah.

Dalam kajian awal, kayu halaban bahan utama pembuatan arang berkualitas tingg ternyata melimpah di sejumlah desa di Kukar.

Ketersediaan bahan baku yang kuat inilah yang membuat Disperindag menetapkan produksi arang halaban sebagai salah satu prioritas hilirisasi.

“Kayu halaban itu luar biasa melimpah. Ini potensi besar yang selama ini belum dikelola maksimal,” ujar dia, Rabu (12/11/2025).

Ia menjelaskan bahwa arang halaban memiliki karakteristik unggul dibanding arang biasa, seperti panas yang lebih stabil dan durasi pembakaran lebih lama, menjadikannya komoditas yang diminati sektor rumah tangga hingga industri.

Disperindag Kukar menargetkan seluruh fondasi perencanaan mulai dari kajian teknis, rantai pasok, hingga desain kemitraan rampung pada tahun 2026.

Pemerintah daerah ingin memastikan bahwa hilirisasi arang halaban tidak hanya membangun pabrik, tetapi juga menciptakan ekosistem produksi yang berkelanjutan.

“Kita ingin membuat perencanaannya secara komprehensif. Ini potensi kita, dan harus masuk dalam hilirisasi daerah,” jelas Fathullah.

Agar proses produksi berjalan optimal, Disperindag Kukar terbuka melibatkan dua pihak utama.

Pertama, investor atau pelaku usaha swasta untuk pengolahan skala industri dan perluasan pasar.

Kedua, koperasi Merah Putih

yang tersebar di beberapa desa dengan populasi kayu halaban cukup besar.  Koperasi-koperasi ini nantinya berperan sebagai penyedia bahan baku sekaligus mitra produksi.

Ia berharap model kolaborasi ini tidak hanya menggerakkan industri, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi langsung ke tingkat desa.

“Nanti akan kita kerjasamakan dengan pihak swasta dan koperasi-koperasi Merah Putih. Mereka punya akses kayu, punya anggota, dan bisa jadi mitra strategis,” pungkasnya. (ADV/ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *