KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berupaya menjaga dan mengembangkan kekayaan seni tradisional daerah. Salah satu upaya yang akan diwujudkan adalah menggelar lomba seni lisan Ladon pada Pekan Kebudayaan Daerah Kukar tahun 2026 mendatang.
Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Cagar Budaya Disdikbud Kukar, M. Saidar, menjelaskan bahwa Ladon merupakan bagian dari kesenian Mamanda yang memiliki nilai budaya tinggi dan sarat makna. Tradisi ini biasanya menjadi pembuka dalam setiap pementasan Mamanda, dan dikenal karena gaya penyampaiannya yang khas.
“Ladon itu biasanya dilakukan sebelum pementasan Mamanda dimulai. Dua orang akan saling bersahutan melantunkan syair yang sesuai dengan tema yang diangkat. Itulah yang menjadi pembuka sebelum pertunjukan Mamanda dimulai,” ujar Saidar pada Selasa (21/10/2025).
Ia menambahkan, dalam setiap Ladon terkandung pesan-pesan moral dan nilai kebudayaan yang relevan dengan kehidupan masyarakat. Biasanya tema yang diangkat berkaitan dengan semangat pelestarian budaya, pentingnya persatuan, serta peran kebudayaan sebagai identitas bangsa.
“Kalau beladon itu temanya umum, tetapi paling tidak isinya selalu mengangkat budaya dan ajakan untuk memajukan kebudayaan sebagai identitas bangsa. Jadi bukan sekadar hiburan, tetapi juga ada nilai edukatif di dalamnya,” jelas Saidar.
Menurutnya, Ladon memiliki kemiripan dengan kesenian Tarsul, namun keduanya tetap berbeda dalam gaya penyampaian. Jika Tarsul lebih mengandalkan irama dan lantunan tunggal, Ladon justru berformat dialog dua arah yang bersahutan, menambah daya tarik tersendiri bagi penonton.
Disdikbud Kukar sendiri menilai penting untuk kembali memperkenalkan tradisi Ladon kepada masyarakat, terutama generasi muda. Melalui kegiatan seperti lomba seni lisan, diharapkan muncul regenerasi seniman lokal yang dapat melestarikan warisan budaya daerah.
Namun, Saidar mengakui bahwa pada tahun 2025 ini kegiatan seni lisan belum dapat digelar secara maksimal. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan waktu serta efisiensi anggaran yang membuat sejumlah program kebudayaan harus dijadwalkan ulang ke tahun berikutnya.
“Insyaallah kalau anggaran tahun depan mencukupi, kita akan gelar event lomba seni lisan ini secara outdoor pada Pekan Kebudayaan Daerah Kukar 2026. Tahun ini kita belum bisa maksimal karena waktunya mepet dan anggaran terbatas,” ujarnya optimistis.
Saidar berharap melalui kegiatan ini, masyarakat Kukar semakin mencintai seni dan budaya lokalnya. Selain menjadi ajang pelestarian tradisi, kegiatan seperti ini juga diharapkan mampu memperkuat identitas budaya Kukar di tengah arus modernisasi yang semakin cepat. (WAN/ADV)










