KUKAR, LINGKARKALTIM: Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan sejumlah instansi terkait melaksanakan ziarah ke Makam Aji Imbut serta makam raja-raja Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Senin (29/9/2025). Prosesi ziarah ini menjadi bagian dari rangkaian sakral dalam pelaksanaan Erau Adat Kutai.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Thauhid Afrilian Noor, yang turut menyaksikan kegiatan tersebut menjelaskan bahwa ziarah makam bukan hanya penghormatan kepada leluhur, tetapi juga tapak tilas sejarah berdirinya Kota Tenggarong.
“Ziarah makam tadi adalah ziarah ke pendiri Kota Tenggarong. Sudah dibacakan sejarahnya. Itu kan bentuk tapak tilas, siapa sebenarnya yang mendirikan kota ini,” ungkap Thauhid.
Menurutnya, masih terdapat perdebatan terkait asal-usul penamaan Tenggarong. Beberapa budayawan dan sejarawan mencatat versi berbeda mengenai makna kata tersebut.
“Ada yang mengatakan berasal dari pucuk Tegaron. Tapi ada juga yang mengaitkan dengan istilah Tangga Arung yang dipahami sebagai rumah raja. Padahal, dalam bahasa Bugis, tangga artinya bukan rumah. Di sinilah perlunya kajian mendalam,” jelasnya.
Thauhid menegaskan bahwa Disdikbud Kukar bersama budayawan akan menggelar seminar dan kajian akademis untuk memperjelas asal-usul nama Tenggarong. Hal ini dilakukan agar sejarah tidak berubah begitu saja tanpa landasan ilmiah.
“Kami ingin semua dikaji secara akademis, melibatkan para sejarawan. Kalau nanti sudah ada kesepakatan bersama, barulah bisa diluruskan. Sejarah itu sensitif, tidak bisa sembarangan diubah,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa meski terdapat perbedaan versi mengenai penamaan Tenggarong, hal tersebut tidak mengurangi penghormatan kepada pendiri kota maupun leluhur Kutai Kartanegara. Yang terpenting, kata Thauhid, adalah bagaimana masyarakat membawa kota ini ke arah yang lebih baik ke depan.
“Yang jelas siapa pendiri kota ini sudah jelas. Tetapi yang lebih penting adalah mau dibawa ke mana kota ini ke depannya,” ujarnya.
Thauhid menyebutkan, Tenggarong memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai kota wisata dan budaya. Sejarah panjang, tradisi adat, dan kekayaan alam yang dimiliki menjadi modal besar untuk memperkuat identitas daerah.
“Kita ingin ke depan, Tenggarong menjadi kota wisata dan kota budaya. Dulu dikenal sebagai sawah kuning air, sekarang mari kita jadikan sebagai kota yang maju tanpa meninggalkan akar budayanya,” pungkasnya. (WAN/ADV)










