KUKAR, LINGKARKALTIM: Program Brigde Pangan Optimalisasi Lahan (Oplah) di Kabupaten Kutai Kartanegara mulai dijalankan, menyasar empat kecamatan yakni Marangkayu, Tenggarong, Anggana dan Samboja, dengan tujuan memaksimalkan pengelolaan lahan rawa agar kembali produktif dan mendukung ketahanan pangan daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar Muhammad Taufik, menjelaskan untuk Brigade Pangan di lokasi Oplah mencakup optimalisasi lahan rawa, dimana salah satu diantaranya di kelurahan Jahab, kecamatan Tenggarong dengan luas lahan 2.392 hektare, dan 3 kecamatan lainnya adalah Marangkayu, Anggana, dan Samboja. Dari target 12 Brigade Pangan, saat ini yang dapat direalisasikan sebanyak 11 Brigade Pangan. Persebarannya meliputi lima Brigade Pangan di Marangkayu, empat di Anggana, satu di Tenggarong, dan dua di Samboja.
“Operasional Brigade Pangan ini, sampai sekarang Alhamdulillah sudah sesuai dengan juknis, sesuai dengan pedoman, sudah tersalur beberapa jenis bantuan,” ujarnya belum lama ini.
Bantuan tersebut meliputi alat mesin pertanian (alsintan), kemudian yang minggu lalu adalah benih padi, kemudian nanti kapur yang masih dalam proses pengiriman. Selain itu ada biaya pengolahan tanah. Jadi paket yang diperoleh Brigade Pangan ini paket lengkap. Mulai dari produksi, benih, kapur, kemudian alsintan. Termasuk di dalamnya pekerjaan fisik optimasi lahan yang dilakukan bersama dengan TNI, seperti perbaikan saluran, jembatan, dan ada pintu air.
Taufik menjelaskan menurut pedoman tenisnya, Brigade Pangan ini ada di lokasi optimasi lahan dengan lokasi cetak sawah yang sumber pembiayaanya dari APBN. Tetapi Pemkab Kukar berencana memperluas sosialisasi Brigade Pangan ini di luar itu. Karena memang secara konseptual, Brigade Pangan merupakan lembaga petani yang lengkap.
Tidak seperti POKTAN, Brigade Pangan ini mengkorporasikan sistem mulai dari hulu ke hilir. Mulai dari pengolahan lahan, ada perjanjian dengan pemilik lahan, umumnya itu 70-30. 70 untuk Brigade dan 30 untuk pemilik lahan.
“Di lokasi Oplah sudah ada perjanjian dengan kelompok tani dan gabungan kelompok tani. Ada juga yang mampu secara swadaya. Tapi mereka secara umum masih keterbatasan modal. Untuk alat saja mereka juga, bagian kesulitan juga,” ungkapnya
Sementara itu, Camat Tenggarong Sukono menyampaikan dukungan penuh terhadap program dari pemerintah pusat, yakni optimalisasi lahan yang menyasar lahan yang tidak produktif. Dengan adanya program ini dapat membantu memaksimalkan lahan yang ada, menjadi lahan produktif.
“Kami berharap program ini bisa berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan, dan tentu bisa membantu meningkatkan perekonomian para petani,” tutupnya. (Adv/Lk)










