KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berupaya meningkatkan populasi ternak melalui program pengadaan bibit ternak yang tersebar di berbagai kecamatan. Program ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah daerah untuk mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat petani-ternak.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar Muhammad Taufik melalui Staf Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Nelva Aflinda menjelaskan, bahwa pengadaan bibit dilakukan untuk berbagai jenis ternak, mulai dari sapi bali, kambing peranakan etawa, kambing kacang, hingga unggas seperti itik dan ayam petelur.
“Tahun ini pengadaan fokus pada sapi dan kambing, serta ayam petelur. Setelah didistribusikan, kami lakukan pembinaan pasca distribusi kepada kelompok penerima,” ujarnya.
Pembinaan yang dilakukan meliputi pemantauan kondisi ternak, pengobatan, pengambilan sampel darah, hingga vaksinasi yang ditangani langsung oleh tim kesehatan hewan Distanak Kukar. Program ini juga melibatkan proses verifikasi terhadap proposal yang diajukan oleh kelompok tani.
“Proposal pengadaan diajukan oleh kelompok tani. Kami verifikasi di lapangan, lalu ditetapkan melalui SK kepala dinas. Kelompok yang lolos akan menerima bantuan bibit ternak,” jelas Nelva.
Namun, tidak semua kecamatan mendapatkan bantuan bibit. Untuk tahun ini, distribusi kambing hanya menjangkau tujuh kecamatan. Hal ini disesuaikan dengan anggaran yang tersedia, termasuk dari program pokok pikiran (pokir) DPRD.
Sistem pemeliharaan ternak pun diserahkan kepada kesepakatan kelompok. Ada yang memilih pemeliharaan individu, ada juga yang memilih sistem koloni dalam satu kandang bersama. Masing-masing sistem memiliki kelebihan dan kekurangan, baik dari sisi pengawasan maupun risiko penyebaran penyakit.
Menariknya, Kutai Kartanegara bukanlah daerah sumber bibit ternak. Oleh karena itu, Distanak Kukar bekerja sama dengan daerah-daerah sumber bibit ternak seperti Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Konawe Selatan di Sulawesi Tenggara untuk pengadaan sapi. Sementara untuk kambing, bibit didatangkan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Kita juga menjalin perjanjian kerja sama (PKS) dengan Kabupaten Lombok Timur dalam hal pengadaan sapi Bali. Populasi ternak kita masih rendah, jadi kita perlu mendatangkan dari luar untuk meningkatkan populasi lokal,” jelasnya.
Pengadaan ternak dilakukan berdasarkan pagu anggaran setiap tahun. Jumlah ekor yang bisa didatangkan pun tergantung pada besarnya anggaran, termasuk alokasi dari pokir.
Dengan program ini, Distanak Kukar berharap populasi ternak lokal dapat terus meningkat sehingga mampu mendukung ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan kesejahteraan petani-ternak di Kutai Kartanegara.(IDN/ADV)










