KUKAR, LINGKARKALTIM : Untuk memeriahkan Kukar Festival Budaya Nusantara (KFBN), Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar membuka pendaftaran peserta kirab budaya, sejak 9-13 Juli 2025.
Sementara kirab budaya tahun ini mengusung tema “Ragam Budaya, Satu Nusantara”. Adapun kirab budaya ini bagian dari rangkaian KFBN yang akan berlangsung pada 19 hingga 23 Juli 2025 mendatang.
Plt Kepala Dispar Kukar Arianto melalui Plt Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran Pariwisata Awang Ivan Ahmad menjelaskan, pemerintah daerah mendorong seluruh komunitas atau paguyuban seni dan budaya dapat berpartisipasi dan memeriahkan event budaya ini.
“Kami mengundang seluruh paguyuban di Kukar untuk ikut serta dan menampilkan kekayaan budaya mereka, setiap paguyuban untuk menampilkan kesenian rakyat khas yang mencerminkan identitas budaya daerah masing-masing. Ini bukan sekadar pentas, tetapi juga bentuk nyata pelestarian budaya melalui ruang partisipatif,” kata Awang Ivan Ahmad.
Adapun persyaratan pendaftaran kirab budaya diantaranya, peserta berdomisili di Kabupaten Kutai Kartanegara, berupa grup atau berkelompok, durasi penampilan antara 3–5 menit, dan menyertakan video dan sinopsis penampilan dalam format PDF.
Pendaftaran dibuka hingga Minggu, 13 Juli 2025, dengan pengumuman peserta terpilih dilakukan pada Selasa, 15 Juli 2025. Kirab Budaya akan digelar pada Sabtu, 19 Juli 2025 di Taman Tanjong Panggung Utama Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara. Pendaftaran gratis, dan slot peserta terbatas. Link Pendaftaran bit.ly/PENAMPILKIRABBUDAYAKFBN2025 atau melalui narahubung 0813-4670-1066 (Febri).
Dalam pelaksanaan KFBN 2025 akan menghadirkan lebih dari delapan provinsi dan 20 kecamatan dari seluruh Kukar. Tiga panggung utama akan disiapkan di Kedaton Kesultanan, Taman Tanjong, dan Simpang Odah Etam (SOE), untuk menyuguhkan beragam pertunjukan budaya dari seluruh Nusantara.
Selain menjadi ruang ekspresi seni, KFBN 2025 juga digagas sebagai sarana pemberdayaan ekonomi lokal, khususnya pelaku UMKM. Dispar Kukar menyiapkan area bazar di sekitar Sungai Mahakam dan Museum Mulawarman, sebagai titik strategis untuk memfasilitasi promosi produk usaha kecil dan menengah.
“Kami ingin festival ini bukan hanya menampilkan budaya, tetapi juga mendukung geliat ekonomi kerakyatan. Festival ini jadi ruang promosi sekaligus transaksi langsung bagi pelaku UMKM,” pungkasnya. (adv/kik)










