Jadi Primadona di 2026, Buket Tambelina Garapan Naficture Tenggarong Laris Manis Diserbu Pelanggan

Anis beserta bucket bunga yang dijualnya, Selasa (23/6/26). (Dilla/lingkarkaltim)
Anis beserta bucket bunga yang dijualnya, Selasa (23/6/26). (Dilla/lingkarkaltim)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Memulai sebuah bisnis dari nol hingga bertahan hampir satu dekade tentu bukan perkara mudah. Hal inilah yang dibuktikan oleh Anis, pemilik usaha buket bunga bernama Naficture yang berlokasi di Jalan Gunung Pegat, Beringin 5, Gang Karya RT 40 No. 24, Tenggarong. Berdiri sejak tahun 2017, Naficture sukses mencuri perhatian pasar dan tetap eksis hingga tahun 2026 ini.

Siapa sangka, bisnis yang kini terkenal dengan buket bunganya yang estetik ini awalnya justru tidak bergerak di bidang perbungaan.

Read More
banner 300x250

“Awalnya fokus usaha kita bukan di buket bunga, melainkan cetak foto, cetak stiker, dan frame custom,” ungkap Anis saat ditemui pada Selasa (23/6/2026).

Peluang baru mulai melirik Naficture pada tahun 2021. Melihat tingginya permintaan dari para pelanggan, Anis memutuskan untuk belajar membuat buket bunga secara otodidak. Keputusan tersebut berbuah manis. Karena peminatnya yang membeludak, Naficture akhirnya beralih fokus memproduksi aneka jenis buket hingga sekarang.

Loyalitas konsumen pun terbukti menjadi kunci bertahannya bisnis ini. Caca, salah satu pelanggan setia Naficture, mengakui sendiri kualitas dan konsistensi usaha milik Anis tersebut sejak awal bertransformasi.

“Saya dari tahun 2021 sudah langganan di sini. Awalnya kan memang langganan cetak foto, eh ternyata sekarang ada buket bunga. Jadinya keterusan selalu langganan di sini karena hasilnya selalu sesuai ekspektasi yang saya mau. Sangat direkomendasikan juga buat teman-teman Gen Z yang cari buket estetik,” terang Caca saat diwawancarai di lokasi sambil mengambil pesanan buketnya, Selasa (23/6/2026).

Untuk urusan produk, Naficture memilih spesialisasi pada buket bunga artifisial (bunga tiruan) dan dried flower (bunga kering). Selain awet, variasi produknya juga sangat beragam.

“Kami belum menyediakan fresh flower (bunga segar). Jadi fokusnya ke buket artifisial, bunga kering, buket uang, buket jajan (snack), hingga buket foto,” jelas Anis.

Memasuki pertengahan tahun 2026 ini, Anis membeberkan ada produk yang sedang menjadi primadona dan sangat laku keras (best seller) dalam tiga bulan terakhir. Produk tersebut adalah Buket Bunga Artifisial Tambelina dan Round Bucket.

“Buket Tambelina ini konsepnya warna-warni, ceria, dan colorful. Jadi kesannya bunganya lebih hidup,” tambahnya sambil menunjukkan contoh buket di mejanya.

Bicara soal performa bisnis, penjualan Naficture terbilang sangat menjanjikan meski fluktuatif mengikuti musim. Di hari-hari biasa (low season), mereka rata-rata menjual 4 hingga 6 buket per hari. Namun, angka ini akan melonjak tajam saat musim kelulusan sekolah, wisuda kuliah, atau acara tertentu.

“Kalau lagi ramai acara perpisahan atau event, sehari kita bisa menjual 30 sampai 40 buket,” tutur Anis.

Harga yang ditawarkan pun sangat ramah di kantong, dimulai dari Rp35.000 saja. Namun untuk pesanan khusus (custom), harganya bisa menyesuaikan keinginan konsumen. Sejauh ini, pesanan buket termahal yang pernah dibuat Naficture mencapai Rp1,8 juta.

Dari penjualan tersebut, Naficture berhasil mengantongi omset kotor yang cukup fantastis sekitar Rp15 juta – Rp17 juta per bulan dan Bulan Ramai (High Season): Bisa menembus Rp20 juta – Rp40 juta per bulan.

Saat ini, Naficture mengandalkan strategi pemasaran digital secara penuh melalui media sosial Instagram dan TikTok di akun @naficture. Meski sebagian besar transaksi dilakukan secara online, beberapa pelanggan lokal kerap datang langsung ke rumahnya untuk memilih bunga.

Melihat antusiasme tersebut, Anis mengaku sedang berencana untuk membuka toko fisik (outlet) resmi.

“Sekarang kan masih operasional di rumah. Kami lagi mengusahakan buat toko (proko) supaya tempatnya lebih nyaman dan pelanggan bisa datang belanja dengan senang,” katanya.

Di balik manisnya perputaran roda bisnis, Anis mengaku ada suka dan duka yang dilewati. Sukanya adalah rasa bangga karena bisa menjadi bagian dari momen bahagia para pelanggannya. Namun, dukanya adalah ancaman kejahatan digital yang kian marak.

Anis menceritakan dirinya sempat menjadi sasaran modus penipuan orderan fiktif yang meminta kode QR tertentu.

“Sekarang lagi marak customer fiktif dengan modus minta kode QR. Kalau kita tidak teliti dan jeli, kita yang bakal rugi besar,” kenangnya memberi peringatan bagi pelaku UMKM lain.

Meski kompetisi bisnis buket makin ketat, Naficture tetap percaya diri dengan keunggulannya yang selalu mengutamakan permintaan dan kepuasan konsumen (custom request) tanpa kehilangan ciri khas branding mereka sendiri. (Dil)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *