Delapan Puluh Persen Sapi Kurban Didatangkan dari Luar Kalimantan

Sapi kurban yang masih di lahan peternakan salah satu penjual sapi di Tenggarong. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
Sapi kurban yang masih di lahan peternakan salah satu penjual sapi di Tenggarong. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Kebutuhan hewan kurban di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) pada momentum Iduladha tahun ini sebagian besar masih dipasok dari luar Kalimantan.

Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar mencatat sekitar 80 persen sapi kurban yang beredar di Kukar berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi.

Read More
banner 300x250

Kepala Bidang Peternakan, Iwan Hermawan mengatakan total ketersediaan sapi kurban di Kukar tahun ini mencapai ribuan ekor yang tersebar di berbagai wilayah kecamatan.

“Kalau total seluruh Kukar itu semuanya ada sekitar 6.000 sapi kurban tersedia,” ungkap dia, Selasa (26/5/2026).

Ia menjelaskan, sapi kurban yang masuk ke Kukar berasal dari tiga sumber utama, yakni NTT, Sulawesi, dan peternak lokal Kukar.

Namun, mayoritas pasokan masih didominasi dari wilayah NTT karena lebih aman dari ancaman penyakit mulut dan kuku (PMK).

“Ini kan sapi-sapi yang kita ada saat ini itu ada dua daerah yang datang ke Kutai Kartanegara yaitu dari NTT dan Sulawesi. Kemudian ditambah dengan sapi lokal,” jelas Iwan.

Dia menjelaskan, sapi lokal biasanya tidak dijual di lapak terbuka seperti penjual hewan kurban pada umumnya.

“Jadi masyarakat lokal itu cenderung mereka datang ke kandang peternaknya,” ujarnya.

Iwan mengungkapkan, sekitar 60 persen pasokan sapi kurban di Kukar berasal dari NTT, 20 persen dari Sulawesi, dan sisanya dari peternak lokal.

Tingginya pasokan sapi dari NTT bukan tanpa alasan. Pasalnya, wilayah tersebut telah dinyatakan bebas PMK sehingga proses distribusi ternak menjadi lebih cepat dan mudah.

“Jadi karantinanya itu tidak dikarantina di Samarinda lagi,” terang dia.

Berbeda dengan sapi asal Sulawesi yang masih harus menjalani masa karantina sebelum masuk ke Kaltim.

“Itu dikarantina selama 12 atau 15 hari di karantina Balikpapan,” kata Iwan.

Karena kondisi tersebut, banyak pedagang lebih memilih mendatangkan sapi dari NTT karena proses distribusinya lebih cepat dan efisien.

“Karena dia bebas PMK dan cepat, tidak diperiksa lagi, sudah bebas dari PMK penyakit mulut dan kuku,” sebutnya.

Distanak Kukar memperkirakan sekitar 90 persen sapi kurban yang tersedia tahun ini akan terjual.

Tingginya angka penjualan dipengaruhi sistem pemesanan masyarakat yang umumnya sudah dilakukan jauh sebelum Iduladha.

“Karena mereka sudah terpesan. Jadi datang itu pedagang memesan berdasarkan pesanan dari masyarakat,” beber dia.

Ia menjelaskan, tradisi arisan kurban yang dilakukan masyarakat turut memengaruhi tingginya permintaan hewan kurban setiap tahunnya.

“Kalau kurban itu kan arisan. Tujuh orang itu sudah bisa dapat satu ekor sapi. Nah itu sudah pesan-pesan dari awal ke penjualnya,” tutur Iwan.

Dari sisi harga itu bervariasi. Dia mengatakan bahwa sapi kurban yang dijual di Kukar saat ini didominasi dua jenis, yakni sapi Bali dan sapi Limousin.

Harga sapi Bali berada di kisaran Rp10 juta hingga Rp20 juta per ekor, sedangkan sapi Limousin dijual dengan harga lebih tinggi.

“Untuk Limousin atau Berangus, ini kan sapi hitam itu berangus, Limousin ya rata-rata 25 sampai 40 juta,” tutupnya. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *