KUKAR, LINGKARKALTIM: Usaha ayam petelur yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Permata Desa Loa Duri Ulu kini mulai menunjukkan hasil positif. Meski baru berjalan lima bulan sejak dirintis pada akhir Januari lalu, unit usaha yang berlokasi di Jalan Teratai 6 (perbatasan RT 5 dan RT 6) ini sudah berhasil meraup omzet sekitar Rp30 juta per bulan.
Kepala Desa Loa Duri Ulu, Muhammad Arsyad, mengungkapkan bahwa produktivitas ayam petelur mereka saat ini telah mencapai 75 persen dari total populasi. Kendati demikian, ia mengakui pendapatan yang masuk belum terlalu besar lantaran dihadapkan pada tantangan eksternal yang cukup berat.
“Saat ini sudah ada income yang masuk, walau belum besar. Kita ketahui bersama harga pakan saat ini sangat tinggi, sementara harga telur di pasaran justru jatuh,” ujar Arsyad, Rabu (15/7/2026).
Anjloknya harga telur disebabkan oleh semakin banyaknya peternak lokal baru serta banjirnya pasokan telur dari luar daerah, seperti Sulawesi dan Surabaya. Selain itu, serapan pasar juga sempat agak berkurang karena adanya penutupan tempat makan.
Menyiasati tingginya harga pakan di agen-agen Samarinda, Pemdes Loa Duri Ulu ke depan berharap bisa bersinergi dengan Koperasi Merah Putih. Koperasi tersebut nantinya diharapkan dapat bertindak sebagai distributor pakan skala besar agar peternak desa bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah.
“Harapan kami, unit usaha ini bisa mendongkrak Pendapatan Asli Desa (PAD) dan membantu perekonomian warga sekitar,” tambah Arsyad.
Di tengah gempuran produk luar daerah, BUMDes Permata Desa tidak kehabisan akal. Direktur BUMDes Permata Desa Loa Duri Ulu, Muhammad Rafii, menjelaskan daya tahan dan kesegaran (freshness) menjadi keunggulan utama produk mereka untuk memenangkan hati konsumen dan perusahaan mitra.
“Kalau telur dari luar daerah itu kan proses distribusinya lama, bisa memakan waktu sampai setengah bulan di perjalanan hingga kualitasnya berkurang. Sedangkan telur kita diambil langsung dari kandang sehingga jauh lebih segar dan minim risiko busuk. Karena keunggulan itu, kita masih bisa menjaga stabilitas harga di atas mereka,” papar Rafii.
Saat ini, dari total awal 1.000 ekor ayam yang dipelihara, pihak pengelola sempat kehilangan sekitar 100 ekor akibat faktor cuaca, karantina, dan kanibalisme antarayam. Namun, sisa populasi yang ada saat ini sudah mampu berproduksi normal dan menghasilkan sekitar 23 hingga 25 piring telur per hari.
Terkait pemasaran, Rafii memastikan posisinya saat ini sangat aman berkat jalinan kerja sama dengan sejumlah perusahaan lokal. Bahkan, tingginya permintaan pasar membuat BUMDes kewalahan hingga terpaksa menolak pesanan dalam jumlah besar.
“Kemarin ada perusahaan yang meminta suplai sampai 800 piring dalam sebulan, terpaksa kami tolak karena kapasitas produksi belum sanggup. Insyaallah, ke depan kami berencana mencari jalur pendanaan untuk menambah populasi ayam agar bisa memenuhi permintaan pasar yang tinggi sekaligus memaksimalkan pemasukan desa,” pungkas Rafii. (Dil)










