KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemberangkatan jemaah haji asal Kutai Kartanegara (Kukar) tahun 2026 dilakukan secara bertahap dalam tiga kelompok terbang (kloter).
Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kukar, Norjali menerangkan bahwa sebanyak 268 jemaah dijadwalkan berangkat menuju Tanah Suci.
Ia menjelaskan, pemberangkatan dibagi dalam kloter 2, 6, dan 15. Dari jumlah tersebut, sebagian jemaah telah lebih dahulu diberangkatkan.
“Kloter dua dan enam sudah berangkat dengan total 156 jemaah, sementara kloter lima belas dijadwalkan berangkat pada 17 Mei 2026,” terang dia, Rabu (6/5/2026).
Menjelang keberangkatan, pihaknya telah memberikan berbagai arahan kepada para jemaah, khususnya terkait pentingnya menjaga kondisi kesehatan.
Ia mengatakan, hal tersebut sangat krusial mengingat perjalanan ibadah haji berlangsung cukup panjang, yakni sekitar 40 hari sejak keberangkatan hingga kembali ke daerah asal.
“Kami mengimbau jemaah untuk menjaga kesehatan, tidak melakukan aktivitas yang terlalu melelahkan, termasuk menghindari agenda seremonial seperti menerima tamu,” kata Norjali.
Dia menilai aktivitas tersebut berpotensi menguras energi dan mengganggu waktu istirahat jemaah, sehingga dapat berdampak pada kondisi fisik saat menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci.
“Kami juga sarankan untuk rutin minum vitamin agar tubuh tetap fit,” ungkapnya.
Selain kesehatan, Norjali juga menekankan pentingnya menjaga sikap selama berada di Arab Saudi.
Ia mengungkapkan bahwa otoritas setempat telah memberikan sejumlah aturan, termasuk larangan aktivitas tertentu yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah.
“Jemaah diimbau untuk tidak mengambil video atau memposting secara berlebihan di media sosial. Fokus utama adalah ibadah,” tegas dia.
Menurutnya, fenomena berbagi aktivitas secara berlebihan di platform digital justru dapat mengalihkan tujuan utama keberangkatan haji.
Oleh karena itu, jemaah diminta untuk lebih mengutamakan kualitas ibadah dibanding aktivitas lainnya.
“Kita ingatkan agar tidak menjadikan momen haji sebagai kebutuhan sosialita. Tujuan utama adalah beribadah,” ucap Norjali.
Selain membatasi aktivitas digital, jemaah juga diminta untuk tidak terlalu banyak melakukan kegiatan di luar kebutuhan ibadah, seperti bepergian yang tidak perlu.
“Kita imbau untuk mengurangi aktivitas di luar ibadah agar kondisi tetap prima,” tuturnya.
Norjali menyebut bahwa kesiapan fisik jemaah sebenarnya sudah dipersiapkan jauh sebelum keberangkatan, bahkan sejak proses pelunasan biaya haji dilakukan.
“Sejak sebelum pelunasan, kesiapan fisik sudah menjadi perhatian. Kita ingin semua jemaah berangkat dalam kondisi benar-benar siap,” pungkas dia. (ASR)










