Kukar Jadi Penyangga Pangan di Kaltim

Plt. Kepala Disketapang Kukar, Ananias. (Istimewa)
Plt. Kepala Disketapang Kukar, Ananias. (Istimewa)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Ketersediaan bahan pokok di Kutai Kartanegara tidak hanya dipengaruhi oleh faktor cuaca, tetapi juga pola distribusi yang melibatkan daerah lain di sekitarnya.

Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang), Ananias menyebut bahwa Kukar memiliki peran strategis sebagai daerah penyangga pangan bagi kota-kota besar di Kaltim.

Read More
banner 300x250

Ia mengungkapkan, sejumlah komoditas seperti cabai, sayur-mayur, hingga beras sudah mampu dipenuhi dari produksi lokal.

Bahkan secara statistik, produksi cabai rawit di Kukar melebihi kebutuhan konsumsi masyarakat setempat.

“Tapi tidak semuanya dikonsumsi di Kukar,” ucap dia, Rabu (18/3/2026).

Ia menjelaskan, sebagian besar hasil pertanian petani Kukar justru didistribusikan ke wilayah lain seperti Samarinda, Bontang, hingga Balikpapan.

Pasalnya, posisi geografis Kukar yang berada di antara kota-kota besar yang tidak memiliki cukup lahan pertanian.

“Petani di Muara Badak dan Marangkayu banyak menjual ke Bontang. Tenggarong Seberang, Anggana, Sanga-Sanga ke Samarinda. Samboja ke Balikpapan. Jadi kita ini sebenarnya menyuplai kebutuhan kota-kota tersebut,” jelas Ananias.

Oleh karena itu, lanjut dia, kondisi ini membuat ketersediaan pangan di Kukar secara angka terlihat aman.

“Secara hitungan terpenuhi, tapi di lapangan harga bisa mahal karena produksi kita tidak sepenuhnya tinggal di Kukar,” sebutnya.

Hal serupa juga terjadi pada komoditas beras. Produksi beras di Kukar telah mencukupi kebutuhan daerah, tetapi distribusinya juga mengalir ke luar wilayah.

Akibatnya, di sejumlah pasar seperti Pasar Mangkurawang masih ditemukan beras dari luar daerah seperti Sulawesi maupun Surabaya.

“Beras kita juga banyak keluar, misalnya dari Tenggarong Seberang ke Pasar Segiri di Samarinda atau dari Marangkayu ke Bontang,” kata dia.

Di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas yang memang masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Di antaranya bawang merah, bawang putih, gula, tepung, hingga sayuran seperti wortel dan kentang.

“Bawang merah kita belum masif produksinya. Baru ada di beberapa kelompok tani seperti di Sebulu. Gula 100 persen dari luar karena kita tidak punya tebu dan pabrik gula. Tepung juga dari luar,” terang Ananias.

Ketergantungan tersebut membuat stabilitas harga sangat dipengaruhi oleh kelancaran distribusi, termasuk faktor cuaca dan kondisi transportasi.

“Kalau barang dari luar itu tergantung distribusi, kondisi laut, dan lainnya,” bebernya.

Sementara itu, untuk komoditas lokal seperti cabai dan sayuran, produksi sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca.

Curah hujan tinggi justru menjadi tantangan bagi petani karena meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit.

“Kalau hujan terus, tanaman hortikultura seperti cabai rentan jamur dan virus. Produksi bisa turun. Petani malah lebih senang kalau tidak hujan, asal air cukup,” tutur dia.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah terus berupaya menjaga keseimbangan antara produksi, distribusi, dan konsumsi agar kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi, sekaligus mempertahankan peran Kukar sebagai lumbung pangan bagi wilayah sekitarnya. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *