KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) membuat inovasi dengan menghidupkan sebuah tradisi lama yang selama ini tumbuh secara organik di kampung-kampung, yaitu Program Besorok.
Plt. Kepala Disperindag Kukar, Sayid Fathullah menyebut program ini sebagai salah satu bentuk penguatan ekonomi warga berbasis kearifan lokal.
“Program Besorok itu sebenarnya jastip, jasa titip. Ini sudah ada dari dulu, tradisi lokal. Orang menitipkan dagangan di tempat yang ramai, lalu hasil penjualannya dibagi sesuai kesepakatan,” jelas dia, Senin (1/12/2025).
Dalam budaya Kutai, besorok berarti betitip. Sistem ini merupakan praktik yang sudah lama dilakukan masyarakat, terutama pelaku usaha rumahan yang tidak memiliki lapak tetap.
Biasanya, warga membawa 30–40 unit makanan seperti untuk-untuk, donat, atau kue-kue tradisional, lalu menitipkan di tempat-tempat yang sudah ramai sejak pagi, terutama pusat sarapan.
Pemilik lapak mendapat persentase tertentu, sementara pelaku usaha mendapatkan akses pasar tanpa harus menyewa kios.
“Ini memang sistem kekeluargaan. Orang tidak tanya PIRT, tidak tanya halal, tidak tanya label. Karena yang bikin orang sekitar, sudah saling kenal,” terang Fathullah.
Berbeda dengan toko modern yang mensyaratkan perizinan berlapis dan standar kemasan khusus, sistem besorok memberi ruang bagi pelaku usahayang modalnya sangat terbatas.
“Kalau toko modern mana bisa besorok? Mereka wajibkan perizinan, PIRT, halal. Sementara pelaku besorok ini banyak yang masih usaha rumahan kecil, baru mulai. Besorok itu ruang aman mereka untuk berkembang,” katanya.
Melihat potensi ekonomi yang besar, Disperindag Kukar tidak ingin tradisi ini hilang.
Justru, kata Fathullah, pemerintah ingin menginstitusikan praktik tersebut melalui kerja sama antara RT dan toko modern.
“Kita dorong kemarin kerja sama melalui RT dengan toko modern, dan pihak toko modern menyambut baik,” ujar dia.
Dalam konsep baru Besorok yang difasilitasi pemerintah daerah, toko modern menyediakan area parkir yang ditata agar bisa dipakai pedagang kecil,
RT menyediakan meja dan memfasilitasi warganya,
Warga RT dapat berjualan di titik tersebut dengan pola besorok yang tetap sederhana dan ramah modal.
“Jadi tradisinya tetap, hanya tempatnya ditata dan difasilitasi,” jelas Sayid.
Program Besorok menjadi jawaban bagi pelaku usaha yang tidak mampu masuk ke sistem ritel modern akibat keterbatasan modal dan administrasi.
Sementara toko modern memberi banyak manfaat, seperti ruang 25 persen untuk UMKM, sistem pembayaran invoice satu bulan kerap menjadi kendala bagi pedagang kecil. Besorok hadir sebagai alternatif yang inklusif.
“Besorok ini wadah mereka yang betul-betul kecil. Modalnya kecil, tidak punya izin lengkap, tapi punya produk bagus. Daripada hilang atau tidak berkembang, kita dukung lewat cara yang sesuai kondisi mereka,” pungkasnya. (ADV/ASR)










