UMKM di Muara Wis Hadapi Tantangan Bahan Baku Ikan, Tetap Bertahan dengan Inovasi

Camat Muara Wis, Fadhli Annur
Camat Muara Wis, Fadhli Annur
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kecamatan Muara Wis terus menunjukkan ketangguhannya meski menghadapi sejumlah kendala, khususnya terkait ketersediaan bahan baku ikan. Camat Muara Wis, Fadhli Annur, menyebut para pelaku UMKM masih mampu berjalan dengan baik, meski harus menyesuaikan diri dengan kondisi alam.

Menurutnya, pelaku UMKM membutuhkan dukungan berupa pelatihan peningkatan kapasitas, terutama dalam hal desain produk dan pemanfaatan bahan lokal.

Read More
banner 300x250

“Alhamdulillah masih bisa berjalan, tapi memang perlu peningkatan kapasitas pelaku, termasuk soal desain produk dan pemanfaatan bahan yang kian terbatas,” ujarnya, Kamis (2/10/2025).

Fadhli menjelaskan, sebagian besar UMKM di Muara Wis bergerak di bidang olahan ikan seperti kerupuk dan amplang. Namun, keberlangsungan produksi sangat dipengaruhi musim. Saat musim ikan melimpah, produksi berjalan lancar, sementara di musim kemarau ketersediaan ikan menjadi terbatas.

“Ikan di danau Muara Wis ini musiman. Kalau musim kemarau ikan melimpah, tapi kalau sedang berkurang, produksi UMKM pun ikut menurun,” jelasnya.

Salah satu produk khas Muara Wis adalah ikan asap, terutama yang berbahan ikan baung dan ikan kepok. Namun, belakangan produksi ikan asap juga menurun karena stok ikan dari danau tidak sebanyak sebelumnya.

Selain itu, jenis ikan seperti gabus, belida atau pipih, dan patin biasanya diolah menjadi berbagai produk lain, termasuk kerupuk dan amplang. Masyarakat juga mulai mengembangkan keramba ikan nila sebagai alternatif bahan baku.

Dari sisi pemasaran, produk UMKM Muara Wis masih didominasi pasar lokal, yakni di wilayah Kota Tenggarong. Beberapa produk juga sudah menembus pasar Kutai Barat (Kubar), meski dalam jumlah terbatas.

“Pemasarannya sebagian besar masih di lokal saja, ada juga yang sampai ke Kutai Barat. Kalau untuk kerupuk, memang agak tergantung musim hujan karena butuh matahari untuk proses pengeringannya,” terang Fadhli.

Lebih jauh, ia menyebut jumlah kelompok UMKM di Muara Wis cukup banyak, dengan kisaran 30 hingga 50 kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 10 hingga 15 orang pelaku usaha yang secara mandiri mengelola kegiatan produksinya.

Meski masih menghadapi kendala bahan baku dan pemasaran, Fadhli optimistis UMKM di Muara Wis tetap bisa bertahan. Ia menegaskan, dukungan dari pemerintah dan pelatihan berkelanjutan sangat diperlukan agar produk lokal semakin berkembang dan bisa bersaing lebih luas. (WAN/ADV)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *