Bepelas, Ritual Sakral Keraton dalam Rangkaian Erau 2025

Ritual Bepelas dalam Rangkaian Erau 2025
Ritual Bepelas dalam Rangkaian Erau 2025
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Salah satu ritual sakral yang mewarnai rangkaian Erau Adat Kutai 2025 adalah Bepelas, sebuah prosesi adat keraton yang sarat makna. Bepelas digelar setiap malam selama perayaan Erau, kecuali malam Jumat karena adanya ritual Hadrah atau Berzanji, dan akan berakhir pada Minggu Malam.

Pamong Budaya Ahli Muda di Bidang Cagar Budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, M. Saidar, menjelaskan bahwa Bepelas memiliki filosofi yang sangat mendalam bagi Sultan Kutai. Ritual ini diyakini sebagai proses pembersihan raga dan sukma Sultan agar tetap kuat, segar, dan terjaga auranya sepanjang prosesi Erau berlangsung.

Read More
banner 300x250

“Bepelas ini merupakan adat keraton yang sakral. Maknanya, Sultan menjaga aura dalam dirinya, membersihkan raga dan sukmanya sehingga bisa melaksanakan seluruh kegiatan Erau dengan lebih kuat, baik secara stamina maupun spiritual,” ujar Saidar, Minggu (28/9/2025).

Menurutnya, sebelum prosesi Bepelas berlangsung, biasanya didahului dengan sejumlah tarian sakral yang juga memiliki makna simbolik. Di antaranya tarian Dewa Pemanah, tarian Dewa mengitari Tiang Ayu, hingga tari Beganjur. Tarian-tarian ini memperkaya dimensi spiritual dari ritual Bepelas itu sendiri.

Saidar menegaskan, Bepelas bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan bagian dari warisan adat keraton yang harus dijaga kelestariannya. Melalui prosesi ini, masyarakat diingatkan tentang pentingnya nilai-nilai spiritual, penghormatan terhadap tradisi, serta menjaga marwah peradaban Nusantara.

“Harapan saya sesuai dengan tema tahun ini, Menjaga Marwah Peradaban Nusantara, bagaimana harkat dan martabat Sultan serta adat istiadat kita bisa terus terangkat. Kita jaga dan lestarikan agar jangan sampai setelah Erau selesai, adat ini ikut hilang,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya partisipasi seluruh masyarakat dalam menjaga keberlangsungan tradisi seperti Bepelas. Tanpa kepedulian bersama, warisan budaya yang bernilai tinggi ini berisiko tergerus zaman.

“Kita harus tetap menjaga adat, istiadat, dan kebudayaan ini. Intinya, jangan sampai hilang. Inilah identitas kita, inilah marwah Kutai,” pungkas Saidar. (WAN/ADV)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *