BALIKPAPAN, LINGKARKALTIM: Keterbatasan air baku menjadi persoalan utama Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) dalam menjaga pemerataan distribusi air bersih kepada pelanggan.
Direktur Utama PTMB Yudhi Saharuddin mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, terlebih sumber air baku Balikpapan sangat bergantung pada waduk yang mengandalkan curah hujan.
“Saat ini PDAM Kota Balikpapan kapasitas produksinya 1.550 liter per detik untuk normal. Dan harus melayani kurang lebih 900.000 penduduk Kota Balikpapan,” kata Yudhi, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, kapasitas produksi air bersih Balikpapan masih lebih rendah dibandingkan Samarinda. Kapasitas produksi air bersih di Samarinda disebut mencapai sekitar 3.500 liter per detik.
Kondisi semakin berat ketika terjadi fenomena El Nino. Kapasitas produksi PTMB yang sebelumnya berada di kisaran 1.150 liter per detik harus turun menjadi sekitar 900 liter per detik akibat berkurangnya ketersediaan air baku.
“Memang air baku kurang. Itu yang terjadi bukan hanya di Balikpapan saja. Balikpapan, PPU, Bontang, daerah-daerah atau wilayah-wilayah yang tidak dilewati oleh sungai pasti mengalami hal yang sama,” ujarnya.
Yudhi menjelaskan, dampak penurunan kapasitas produksi paling terasa di wilayah yang berada di ujung jaringan pelayanan, terutama kawasan dengan posisi geografis lebih tinggi.
Untuk membantu pelanggan yang terdampak, PTMB menyiapkan sekitar empat hingga lima terminal tangki air. Perusahaan juga telah menyalurkan air bersih bersubsidi sekitar 7,29 juta liter selama kondisi El Nino.
“Kita berdoa sama-sama mudah-mudahan El Nino segera berakhir, karena air baku yang kita manfaatkan di Kota Balikpapan ini dari waduk tadah hujan. Kita tidak punya sungai, beda dengan Samarinda yang memiliki sungai cukup besar,” jelasnya.
Meski menghadapi keterbatasan air baku, Yudhi memastikan kondisi keuangan dan operasional PTMB masih memungkinkan perusahaan untuk menangani persoalan tersebut.
“Alhamdulillahnya dengan kondisi begitu, Balikpapan ini perusahaannya masih sehat dan kondisi masih bisa kita atasi. Kami melakukan terus upaya untuk membantu masyarakat yang terdampak,” katanya.
Selain persoalan air baku, Yudhi turut menjelaskan alasan pembangunan pipa induk belum dapat dilakukan secara masif untuk memperluas cakupan pelayanan air bersih.
Menurutnya, pertumbuhan penduduk yang terus meningkat harus diimbangi dengan ketersediaan air baku. Karena itu, pembangunan jaringan perpipaan tidak bisa hanya didasarkan pada kebutuhan pelanggan, tetapi juga harus mempertimbangkan kemampuan sumber air.
“Bagaimana kalau pipa induknya dipasang sementara sumber air bakunya masih kurang? Itu menjadi satu proyek yang nantinya tidak bisa juga dilaksanakan,” jelasnya.
Ia menegaskan, pembangunan jaringan perpipaan harus disesuaikan dengan kapasitas air baku yang tersedia. Langkah tersebut diperlukan agar perluasan jaringan tidak justru menimbulkan persoalan baru dalam pelayanan.
“Jadi kita harus melihat keseimbangan. Berapa sih air bakunya? Air baku hanya sekian, ini cocok untuk sekian ribu pelanggan. Kita tidak boleh langsung asal pasangkan saja sementara kita tidak mempertimbangkan berapa kemampuan dan kapasitas kita,” pungkasnya.(abd)










