KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemkab Kukar terus mendorong peningkatan kunjungan wisata dengan mengembangkan berbagai agenda pariwisata dan festival di seluruh wilayah.
Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin mengatakan pengembangan pariwisata menjadi salah satu pekerjaan penting yang harus terus didorong di tengah kondisi efisiensi anggaran.
Karena itu, berbagai festival seperti Erau Adat Kutai 2026 ini tetap dijalankan sebagai bagian dari strategi menarik wisatawan dari dalam daerah maupun luar Kukar.
“Festival sudah mulai dijalankan di tengah efisiensi ini, pasti juga untuk menggait pariwisata yang ada di Kutai Kartanegara dan bahkan nasional,” kata dia, Kamis (24/9/2026).
Ia menilai, tantangan pariwisata daerah bukan hanya meningkatkan jumlah orang yang datang, tetapi mengubah pola kunjungan agar Kukar menjadi destinasi utama.
Wisatawan tidak sekadar singgah dalam waktu singkat sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah lain.
Dia mengatakan, pesan tersebut juga menjadi salah satu hal yang disampaikan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dalam pembahasan mengenai pengembangan pariwisata Kukar.
“Kutai Kartanegara harus menjadi destinasi, bukan hanya tempat untuk persinggahan yang short term, tapi juga bisa people spend money di Kutai Kartanegara,” sebut Rendi.
Dengan konsep tersebut, keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah wisatawan yang datang.
Lama tinggal dan aktivitas ekonomi yang dilakukan wisatawan selama berada di Kukar juga menjadi bagian penting.
“Orang harus spend uangnya di Kutai Kartanegara, baru Kutai Kartanegara bisa meningkat di pariwisatanya secara keseluruhan,” tuturnya.
Rendi menjelaskan, pergerakan wisatawan idealnya menciptakan rantai ekonomi yang melibatkan berbagai sektor.
Ketika wisatawan datang, manfaatnya tidak berhenti di lokasi objek wisata, tetapi turut dirasakan pelaku usaha kuliner, UMKM, jasa transportasi hingga sektor perhotelan.
Menurutnya, aktivitas UMKM dan tingkat okupansi hotel menjadi salah satu variabel penting dalam melihat pertumbuhan pariwisata di Kukar.
Karena itu, Pemkab Kukar melihat penyelenggaraan festival sebagai salah satu instrumen untuk menciptakan pergerakan wisatawan sekaligus aktivitas ekonomi.
Ia menyebut bahwa festival seperti Erau perlu terus dilaksanakan dan dilestarikan karena memiliki daya tarik budaya yang kuat.
“Nah, bagaimana caranya Kutai Kartanegara pariwisatanya bisa tumbuh? Ya, sudah, festival seperti Erau ini harus tetap dilaksanakan dan dilestarikan,” kata dia.
Ia menerangkan bahwa strategi pengembangan pariwisata Kukar juga diarahkan agar tidak hanya bertumpu pada Tenggarong.
Dia menyebut setiap kecamatan memiliki potensi dan daya tarik yang dapat dikembangkan melalui agenda festival.
Maka dari itu, festival di 20 kecamatan perlu terus digelar dan ke depan kapasitas penyelenggaraannya bahkan dapat diperbesar.
“Banyak festival di 20 kecamatan di Kutai Kartanegara yang tetap wajib hukumnya diadakan, bahkan kapasitasnya diperbesar ke depan. Jadi nanti kita ada agenda One District, One Festival,” terang Rendi.
Konsep tersebut membuat aktivitas pariwisata tersebar di berbagai wilayah Kukar.
Setiap kecamatan memiliki kesempatan untuk menampilkan karakter, budaya, produk maupun potensi lokal masing-masing.
Dengan semakin banyak agenda yang tersebar sepanjang tahun, kunjungan wisatawan juga diharapkan tidak hanya terkonsentrasi pada momentum tertentu.
Bahkan, pihaknya akan menggagas keterlibatan perusahaan besar yang beroperasi di Kukar dalam pengembangan pariwisata.
Dia menyebut bahwa terdapat rencana mendorong konsep One Company, One Festival.
“Tahun depan harusnya ada One Company, One Festival. Jadi satu perusahaan besar di Kutai Kartanegara harus punya satu festival yang baik,” ungkapnya.
Menurut Rendi, keterlibatan dunia usaha dapat menjadi bagian dari kontribusi sektor swasta terhadap pengembangan pariwisata daerah.
Festival yang digelar perusahaan tidak sekadar menjadi kegiatan internal, tetapi dapat dirancang untuk memberikan dampak terhadap kunjungan wisata dan ekonomi masyarakat.
“Artinya apa? Jelas, kontribusinya untuk pariwisata,” tegas dia.
Ia juga melihat besarnya potensi ekonomi yang dapat dihasilkan apabila Kukar mampu meningkatkan porsi perputaran uang dari sektor pariwisata.
Ia merujuk pada angka perputaran uang sektor pariwisata Indonesia yang disebut mencapai Rp7,1 triliun.
“Bayangkan kalau di Kutai Kartanegara bisa tarik 1 persen saja, itu Rp70 miliar perputaran uang ada di Kutai Kartanegara di bidang pariwisata, itu satu persen,” seru Rendi.
Dia menilai bahwa target tersebut bukan sesuatu yang mustahil mengingat Kukar memiliki kekayaan budaya dan potensi wisata yang tersebar di berbagai wilayah.
“Itu sangat mungkin untuk Kutai Kartanegara, karena kita kota budaya, khususnya Tenggarong, dan 20 kecamatan punya daya tarik tersendiri,” katanya.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Awang Agus mengungkapkan bahwa pihaknya terus berkerja meningkatkan pariwisata.
Salah satu ialah dengan pelaksanaan Erau hingga saat ini yang menunjukkan respons positif dari masyarakat.
Antusiasme tersebut menjadi salah satu indikator awal bagi Dispar Kukar dalam melihat peluang pencapaian target kunjungan wisata tahun ini.
“Kalau melihat kondisi hari ini, saya cukup optimistis target tahun ini bisa terpenuhi,” kata dia.
Menurutnya, keberlanjutan antusiasme masyarakat hingga seluruh rangkaian Festival Erau berakhir menjadi faktor penting untuk menjaga pergerakan kunjungan wisata.
Selain jumlah pengunjung, aktivitas selama festival juga memberikan dampak lebih luas terhadap sektor ekonomi masyarakat, terutama pelaku UMKM dan usaha yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata.
“Antusiasme masyarakat juga cukup baik, dan mudah-mudahan sampai akhir pelaksanaan Erau ini kunjungannya terus meningkat,” pungkasnya. (ASR)










