Air Sungai Mahakam di Loa Raya Berubah Hijau, DLHK Kukar Siapkan Pengujian Sampel

Kondisi Air Sungai Mahakam di Desa Loa Raya, Tenggarong Seberang (Foto:Hafidz)
Kondisi Air Sungai Mahakam di Desa Loa Raya, Tenggarong Seberang (Foto:Hafidz)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Perubahan warna air Sungai Mahakam menjadi kehijauan menjadi perhatian warga di Desa Loa Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Salah seorang warga Loa Raya menyebut, perubahan warna air tersebut terlihat cukup mencolok. Bahkan, dari kejauhan kondisi sungai tampak seperti pemandangan pantai karena warna air yang berubah menjadi kehijauan.

Read More
banner 300x250

Menanggapi kondisi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar, Slamet Hadiraharjo, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab perubahan warna air tersebut.

Menurutnya, DLHK masih perlu melakukan pengamatan dan kajian lebih lanjut untuk mengetahui apakah perubahan warna air berkaitan dengan fenomena pasang surut maupun masuknya air laut ke wilayah perairan Mahakam.

“Masih belum memprediksi terkait masalah itu. Tapi dari perkembangan beberapa informasi, air pasang sudah mulai masuk dari arah Anggana, Samarinda dan beberapa wilayah lainnya,” ujar Slamet Senin (14/9/2026).

Ia mengatakan, kondisi tersebut perlu dicermati mengingat saat ini terjadi fenomena El Nino ekstrem yang berdampak terhadap rendahnya curah hujan di sejumlah wilayah.

“Kita belum melihat fenomena itu apakah memang sudah masuk ke Tenggarong atau belum. Tapi kami coba cek informasi terkait masalah itu,” katanya.

Slamet menyebut, kondisi kemarau panjang saat ini memang berpotensi menimbulkan berbagai dampak terhadap lingkungan. Terlebih, dalam beberapa bulan terakhir wilayah Kukar belum mendapatkan curah hujan yang cukup.

“Karena memang ini salah satu dampak yang cukup luar biasa. Dari awal kami sudah memberikan informasi kepada beberapa OPD terkait terjadinya El Nino yang cukup ekstrem ini,” jelasnya.

DLHK Kukar, lanjut Slamet, akan melakukan pemantauan lebih lanjut. Tidak hanya terkait kondisi udara dan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga kemungkinan perubahan kondisi lingkungan lainnya, termasuk kualitas air.

“Nanti ada tim tersendiri yang akan turun untuk mencermati kondisi lain. Bukan hanya berbicara udara, mungkin media yang lain, termasuk air, akan coba kita tindak lanjuti,” ujarnya.

Terkait kemungkinan pengambilan sampel air di lokasi yang mengalami perubahan warna, Slamet mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan tim internal DLHK.

“Kita coba lihat nanti. Dengan koordinasi beberapa OPD dan internal kami, kami coba menelusuri fenomena seperti ini. Bukan hanya berbicara udara, mungkin air dan hal-hal lain yang perlu kita cermati,” katanya.

Sementara itu, hasil pengambilan sampel air yang sebelumnya dilakukan pada 31 Agustus 2026 di Sungai Mahakam dan Sungai Tenggarong menunjukkan kondisi yang berbeda.

Pada saat pengambilan sampel, warna air Sungai Mahakam belum mengalami perubahan seperti yang terlihat saat ini. Berdasarkan hasil pengujian, kondisi Sungai Mahakam di lokasi sampling masih berada dalam kategori baik dan belum terindikasi mengalami pencemaran yang melebihi ambang batas baku mutu lingkungan berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021.

Air Sungai Mahakam saat itu masih dinilai memadai untuk peruntukan air permukaan, seperti biota air dan rekreasi, maupun sebagai bahan baku air bersih setelah melalui proses pengolahan sesuai standar.

Hasil tersebut juga belum menunjukkan adanya indikasi pengaruh intrusi air laut pada saat pengambilan sampel.

Namun, kondisi Sungai Tenggarong menunjukkan hasil berbeda. Berdasarkan pengujian pada tiga lokasi, yakni Jembatan Bekotok, Jembatan 3 dan Jembatan Bongkok, secara umum kualitas air Sungai Tenggarong telah mengalami pencemaran bahan organik dan bakteriologis yang cukup signifikan.

Parameter COD, BOD5 dan bakteri coliform menjadi beberapa indikator yang terdeteksi, meskipun parameter fisik air masih berada dalam ambang batas.

Konsentrasi bakteri tercatat lebih tinggi pada wilayah hulu hingga tengah, seperti Jembatan Bekotok dan Mangkuraja, kemudian cenderung mengalami pengenceran ketika mendekati wilayah muara atau Jembatan Bongkok.

Air Sungai Tenggarong dengan kondisi tersebut tidak disarankan digunakan secara langsung sebagai bahan baku air minum maupun untuk kebutuhan domestik tanpa melalui proses pengolahan dan disinfeksi secara intensif.

Sementara perubahan warna Sungai Mahakam yang terjadi belakangan ini masih memerlukan pengujian terbaru untuk memastikan penyebabnya.

Secara karakteristik, Sungai Mahakam merupakan sungai yang dipengaruhi pasang surut. Ketika volume air sungai menurun akibat kondisi kemarau, perubahan pola pasang surut dan masuknya air dari wilayah hilir berpotensi memengaruhi kondisi perairan.

Jika terjadi intrusi air laut, kondisi tersebut dapat menyebabkan perubahan sejumlah parameter kualitas air. Karena itu, dampaknya terhadap kesehatan manusia juga perlu menjadi perhatian apabila air tersebut digunakan untuk kebutuhan masyarakat tanpa pengolahan yang sesuai.

DLHK Kukar memastikan akan mencermati perubahan tersebut melalui pemantauan dan, jika diperlukan, pengambilan sampel terbaru untuk mengetahui kondisi kualitas air Sungai Mahakam saat ini.

“Makanya kita belum melihat terkait perubahan itu apakah memang ada pengaruh seperti apa. Kita belum mengkaji lebih detail lagi terkait fenomena tersebut,” pungkasnya.(ahk)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *