KUKAR, LINGKARKALTIM: Jumlah titik panas atau hotspot di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menunjukkan penurunan. Berdasarkan pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar per 19 Oktober 2026, tercatat sekitar 95 titik panas. Angka ini turun dibandingkan beberapa bulan sebelumnya yang sempat mencapai 300–400 titik.
Meski demikian, upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap menjadi perhatian. BPBD Kukar meminta pemerintah kecamatan, desa, dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang masih terpantau memiliki titik panas.
Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, mengatakan penurunan jumlah hotspot menjadi perkembangan positif dalam upaya pengendalian karhutla. Kondisi cuaca, termasuk hujan yang turun di sejumlah wilayah, turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat perkembangan titik panas.
“Pagi ini terpantau sekitar 95 titik panas. Biasanya, laporan akan terus diperbarui sampai siang hari, sehingga jumlahnya masih bisa berubah,” ujar Sandi, Selasa (20/10/2026).
Salah satu wilayah yang masih menjadi perhatian adalah Kecamatan Kenohan, khususnya di sekitar Desa Kahala dan Lamin Telihan.
Namun, kemunculan titik panas tidak serta-merta menandakan adanya kebakaran. Karena itu, diperlukan pengecekan langsung untuk memastikan kondisi di lapangan.
BPBD Kukar juga telah membagikan informasi pemantauan kepada pihak kecamatan agar segera ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan pemerintah desa.
“Kami sudah membagikan informasi di grup agar pihak kecamatan membantu melakukan pemantauan di lapangan, termasuk menggali informasi dari kepala desa untuk memastikan kondisi sebenarnya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kahala Ilir, Kecamatan Kenohan, Mahlan, menyebut kondisi di wilayahnya mulai membaik. Asap yang sebelumnya cukup pekat kini berangsur berkurang setelah hujan turun.
“Di Desa Kahala aman saja. Di kecamatan juga asapnya sudah berkurang. Ada hujan kemarin. 2 minggu terakhir sudah agak cerah,” ungkap Mahlan, Selasa (20/10/2026).
Ia menjelaskan, beberapa waktu sebelumnya asap cukup tebal hingga menghalangi sinar matahari. Asap tersebut diduga berasal dari sejumlah wilayah sekitar, termasuk Desa Semayang dan kawasan perbatasan Desa Tuana Tuha yang sempat dilaporkan masih memiliki titik api.
Menurutnya, kebakaran yang lokasinya dapat dijangkau petugas pemadam kebakaran dan Masyarakat Peduli Api (MPA) relatif lebih mudah ditangani. Sementara itu, titik api di lokasi yang jauh tetap membutuhkan perhatian dan pemantauan.
“Kalau sudah terjangkau pemadam dan MPA, insyaallah bisa dipadamkan. Yang jauh ini, kemarin saya terbangkan drone untuk melihat titiknya. Titiknya sudah jauh, tetapi kecil-kecil saja,” tambahnya.
Untuk mencegah kebakaran berulang, pemerintah desa juga terus mengimbau masyarakat agar menahan diri dari aktivitas pembakaran saat membuka lahan. Imbauan disampaikan melalui pemasangan spanduk dan pengumuman kepada warga.
“Dari desa, kami sudah memberikan imbauan melalui banner dan pengumuman kepada warga agar menahan diri untuk tidak membakar hutan atau lahan saat membuka lahan. Jangan sampai dibakar dulu,” pungkasnya. (Adv/dil)










