KUKAR, LINGKARKALTIM: Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kian mengkhawatirkan sepanjang satu bulan terakhir. Peningkatan titik panas (hotspot) dan kejadian kebakaran kini mulai meluas ke sejumlah wilayah kecamatan.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar mencatat sedikitnya ada puluhan kasus kebakaran lahan yang berhasil ditangani dalam kurun waktu Juli 2026.
Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani, mengungkapkan Kecamatan Muara Jawa menjadi wilayah dengan penanganan karhutla tertinggi.
“Sepanjang Juli kemarin ada 33 kejadian kebakaran lahan. Muara Jawa menjadi yang paling banyak penangannya, yakni 11 kali. Disusul Muara Badak 7 kali dan Samboja 5 kali penanganan,” ujar Fida, Senin (10/8/2026).
Fida menegaskan, melihat intensitas kejadian di lapangan saat ini, kondisi penanganan karhutla di Kukar berada pada status siaga.
Dikonfirmasi terpisah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar mencatat total akumulasi penanganan karhutla dalam sebulan terakhir bahkan diperkirakan mencapai kisaran 50 kejadian. Angka ini mencakup penanganan gabungan di wilayah rawan seperti Marangkayu dan Muara Badak.
Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, menjelaskan persebaran titik panas saat ini sudah terdeteksi di 7 dari 20 kecamatan di Kukar.
Wilayah tersebut meliputi Marangkayu, Muara Badak, Samboja (termasuk kawasan Tahura Bukit Soeharto), Muara Jawa, Sangasanga, Muara Muntai, hingga Muara Kaman.
“Titik panas mulai marak, bahkan di Marangkayu sudah disertai bencana kekeringan. Dalam satu hingga dua minggu ini kami terus memantau data hotspot dan mengkaji penetapan status siaga bencana karhutla,” kata Sandi, Senin (10/8/2026).
Sekitar 80 persen memicu terjadinya kebakaran lahan disebabkan oleh aktivitas manusia. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau para kepala desa dan tokoh masyarakat untuk gencar mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Kalau pun ada pembakaran terbatas, harus dibuatkan sekat-sekat pelindung agar api tidak menjalar dan tidak terkendali,” tegasnya.
Menghadapi ancaman yang meluas seperti kebakaran di kawasan Tahura Bukit Soeharto hingga Desa Kupang Baru di Muara Kaman BPBD Kukar mengedepankan kerja sama lintas sektor (pentahelix).
Penanganan di lapangan melibatkan personel gabungan dari TNI, Polri, Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Provinsi, Manggala Agni Kementerian LHK, sukarelawan Redkar, hingga dukungan armada dari pihak swasta/perusahaan setempat.
“Sesuai pesan Pak Bupati, kita ini bukan SuperMan, tapi SuperTeam. Penanganan karhutla tidak bisa sendiri. Di Desa Kupang Baru misalnya, perusahaan siap membantu memfasilitasi moda transportasi seperti speedboat untuk memobilisasi personel TNI dan Manggala Agni ke titik lokasi,” ujar Sandi.
BPBD juga menyiagakan mesin pompa air di area-area terdampak guna mengantisipasi krisis air dan meminimalisasi dampak kekeringan bagi masyarakat. (Dil)










