Usai Dua Rumah Ambruk di Embalut, Pihak Desa Bakal Surati Dishub Soal Kecepatan Kapal Melak

Kondisi rumah warga yang amblas di sungai mahakam, Desa Embalut, Kec. Tenggarong Seberang, Selasa (14/7/26). (Doc. Riduar)
Kondisi rumah warga yang amblas di sungai mahakam, Desa Embalut, Kec. Tenggarong Seberang, Selasa (14/7/26). (Doc. Riduar)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemerintah Desa (Pemdes) Embalut, Kecamatan Tenggarong Seberang, akhirnya angkat bicara mengenai penyebab utama ambruknya rumah warga di pinggir Sungai Mahakam pada Selasa (14/7/2026) pagi.

Bukan sekadar karena faktor bangunan tua, salah satu rumah yang ambruk ternyata baru saja direnovasi. Tekstur tanah yang labil ditambah hantaman gelombang dari kapal yang melintas disinyalir menjadi pemicu utama amblesnya bangunan tersebut.

Read More
banner 300x250

Sekretaris Desa (Sekdes) Embalut, Riduar, mengungkapkan lokasi berdirinya rumah-rumah tersebut memang berada di zona rawan.

“Rumah yang roboh total itu sebenarnya bangunannya kuat, baru saja diperbaiki habis sekitar Rp30 juta. Nah, yang parah itu bangunan di sebelahnya. Di sana memang rawan, tanahnya seperti turun ke bawah dan tipenya tanah liat,” ujar Riduar saat dikonfirmasi, Selasa (14/7/2026).

Riduar juga meluruskan detail mengenai dampak kerusakan di lapangan. Berdasarkan data pemutakhiran desa, terdapat 3 KK dengan total 5 jiwa yang terdampak. Dari tiga rumah yang posisinya berdempetan di pinggir sungai tersebut, satu rumah mengalami rusak parah, satu rumah amblas di bagian dapur, dan satu rumah lainnya dalam kondisi aman.

“Untuk yang difoto dan video beredar itu, satu rumah hanya bagian dapurnya saja yang amblas, bagian depannya masih aman,” jelasnya.

Saat ini, warga yang terdampak dibantu relawan masih sibuk mengevakuasi barang-barang berharga yang bisa diselamatkan. Untuk sementara waktu, para korban memilih mengungsi ke rumah kerabat terdekat.

Selain kondisi tanah, pihak desa membenarkan keluhan warga terkait lalu lintas transportasi air. Gelombang besar yang dihasilkan oleh kapal-kapal yang melintas dengan kecepatan tinggi kerap menghantam pondasi rumah warga dan area budi daya perikanan.

“Itu (gelombang kapal) memang memengaruhi. Kadang-kadang Kapal Melak kalau lewat Desa Embalut itu memang laju (cepat). Sering juga kami tegur, apalagi di Desa Embalut ini kan banyak keramba ikan warga. Biasanya kapal itu lewat sekitar jam 10.00 atau 10.30 pagi,” beber Riduar.

Menyikapi masalah ini, Pemerintah Desa Embalut berencana mengambil tindakan tegas dengan menyurati pihak otoritas pelabuhan dan dinas terkait.

“Kami akan mengirim surat ke Dinas Perhubungan (Dishub) dan pihak pelabuhannya, agar kapal yang lewat Desa Embalut jangan terlalu laju karena ombaknya besar,” tandasnya.

Sebagai langkah antisipasi jangka pendek, Pemdes Embalut mengimbau warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan.

Pihak desa juga akan menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar guna mengkaji kelayakan huni di kawasan tersebut.

Jika dari hasil kajian teknis menyatakan wilayah tersebut masuk dalam zona merah atau berbahaya, pihak desa memastikan akan melarang adanya aktivitas pemukiman baru di sana.

“Langkah awal kami menghimbau warga di sekitar lokasi untuk berhati-hati. Kedua, kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait seperti BPBD atau lainnya untuk memastikan apakah area di sana aman atau berbahaya,” tutur Riduar.

“Jika dinyatakan berbahaya, tentu tidak boleh lagi ada warga yang tinggal di sana, dan tidak diperbolehkan lagi membangun rumah yang permanen di area tersebut,” pungkasnya. (Dil)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *