KUKAR, LINGKARKALTIM: Empat atlet muda binaan Arkan Camp Tenggarong akan bertarung pada ajang Indonesia Muaythai Championship (IMC) 2026 yang digelar di Bekasi pada 4–9 Agustus 2026.
Berbeda dengan kontingen pada umumnya, keempat petarung cilik tersebut berangkat menggunakan biaya mandiri sebagai bentuk komitmen untuk mengejar prestasi di tingkat nasional.
Pelatih sekaligus Pembina Arkan Sport Management, Rony Abdurahman mengatakan keputusan berangkat secara mandiri diambil bersama para orang tua atlet.
Menurutnya, kesempatan mengikuti kejuaraan nasional tidak boleh terlewat hanya karena menunggu dukungan anggaran.
“Dengan biaya mandiri kami coba berani untuk berangkat ke kejuaraan ini. Kapan lagi kita bisa melakukan uji coba kalau berharap atau menunggu dana dari daerah,” kata dia, Rabu (8/7/2026).
Ia menegaskan, keberangkatan ini merupakan hasil kesepakatan bersama antara tim pelatih dan orang tua atlet yang ingin memberikan pengalaman bertanding sekaligus mengukur kemampuan anak-anak di level nasional.
“Kami bersama orang tua atlet mengambil inisiatif untuk berangkat mandiri karena demi mengejar prestasi anak-anak kami,” ungkap Rony.
Empat atlet yang akan tampil di Bekasi terdiri dari Chalista Alfarida Ab (10 tahun) yang akan bertanding di kelas 30 kilogram, M. Angkasa Ab (13 tahun) di kelas 36 kilogram, Sandiego (11 tahun) di kelas 30 kilogram, serta Al Risky Aulia Winata (12 tahun) yang juga turun di kelas 30 kilogram.
Dia menjelaskan, awalnya hanya tiga atlet yang dipastikan mengikuti kejuaraan, yakni Angkasa, Chalista, dan Diego.
Namun tekad kuat yang ditunjukkan Al Risky membuatnya ikut diberangkatkan.
Perjuangan Al Risky Menggerakkan Hati Pelatih
Kisah Al Risky menjadi salah satu cerita yang paling menyentuh dalam persiapan menuju Kejurnas.
Meski memiliki keterbatasan ekonomi, atlet berusia 12 tahun itu tetap berlatih dengan disiplin dan berusaha mengumpulkan biaya keberangkatan sendiri.
“Al Risky merupakan atlet yang mempunyai tekad yang kuat dengan aktif berlatih pagi sore, ingin juga berangkat untuk mengejar mimpinya,” tuturnya.
Rony mengungkapkan, Al Risky bahkan berupaya mengumpulkan biaya dengan bekerja sebagai badut di kawasan Titik Nol dan Timbau.
“Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, dia ingin berangkat dengan mengumpulkan hasil kerjanya dengan ngebadut di Titik Nol dan di Timbau. Hal ini yang mengetuk hati saya sebagai pembina olahraga beladiri di Kutai Kartanegara,” kata dia.
Melihat kegigihan tersebut, ia akhirnya memutuskan membantu keberangkatan Al Risky meski kondisi pembinaan olahraga juga terdampak efisiensi anggaran.
“Dengan segala keterbatasan yang saya miliki di tengah efisiensi anggaran, kami coba membantu untuk keberangkatan Al Risky,” ujar Rony.
Untuk menekan biaya perjalanan, rombongan Arkan Camp berencana berangkat menuju Bekasi menggunakan transportasi laut sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi pertandingan.
Meski harus menempuh perjalanan panjang, semangat para atlet tidak surut. Mereka berharap pengalaman di Kejurnas menjadi bekal berharga untuk meraih prestasi sekaligus membuka jalan menuju kompetisi yang lebih tinggi.
Rony berharap keempat atlet binaannya mampu memberikan hasil terbaik dan mengharumkan nama Kukar di tingkat nasional.
“Semoga keempat petarung cilik ini akan pulang membawa kemenangan,” harapnya.
Rony juga berharap perjuangan anak-anak tersebut menjadi perhatian berbagai pihak. Menurutnya, pembinaan olahraga usia dini membutuhkan dukungan bersama, mulai dari keluarga, masyarakat hingga pemerintah.
“Di sini kita bisa melihat bahwa demi masa depan generasi muda perlu perhatian khusus, terutama dari orang-orang terdekatnya,” pungkas dia. (ASR)










