KUKAR, LINGKARKALTIM: Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Tenggarong menyoroti tantangan serius yang tengah dihadapi sektor pertanian jagung di Kutai Kartanegara (Kukar). Penurunan produksi yang signifikan disebut terjadi akibat minimnya regenerasi petani dan semakin terbatasnya minat generasi muda untuk terjun di sektor pertanian.
Ketua KTNA Kecamatan Tenggarong, Lakir Prawoto, mengungkapkan bahwa sebagian besar petani jagung di wilayah Loa Ipuh dan Loa Ipuh Darat kini berusia lanjut, sementara tidak ada penerus dari kalangan muda.
“Banyak petani kita yang sudah berusia di atas 60 tahun, dan tidak ada generasi muda yang mau meneruskan. Ini yang paling memprihatinkan,” ujarnya, Kamis (23/10/2025).
Selain faktor regenerasi, Lakir menyebut adanya pergeseran minat dan tekanan dari faktor ekonomi membuat petani enggan bertahan di usaha jagung. Ia menilai kondisi ini berdampak langsung terhadap pasokan jagung di pasar dan stabilitas harga di tingkat daerah.
Menurutnya, situasi ini menuntut adanya pendekatan baru dalam pembinaan petani, bukan hanya melalui bantuan fisik seperti benih dan pupuk, melainkan juga dengan motivasi dan edukasi agar petani kembali semangat berproduksi.
“Jadi bukan cuma soal lahan atau bantuan, tapi bagaimana kita membangkitkan kembali semangat petani untuk menanam jagung,” jelasnya.
Penurunan produktivitas jagung kini mulai terasa pada rantai pasok. Jika sebelumnya wilayah Tenggarong mampu menghasilkan sekitar 50 ton jagung per bulan, kini jumlah tersebut menurun drastis. Kondisi ini mengancam keberlanjutan ekonomi petani sekaligus ketahanan pangan daerah.
Lakir menegaskan bahwa KTNA bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL) terus berkoordinasi untuk menjaga agar produksi jagung tidak terhenti sepenuhnya. Mereka rutin turun ke lapangan untuk memberikan pendampingan teknis sekaligus dorongan moral bagi kelompok tani.
“Kami bersama PPL terus turun ke lapangan. Kalau tidak dijaga, nanti petani jagung bisa benar-benar hilang di Tenggarong,” katanya.
KTNA menilai sektor jagung masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Kukar, terutama karena tingginya permintaan pasar lokal dan nasional. Oleh karena itu, diperlukan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah dalam bentuk kebijakan, insentif, dan pelatihan.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) juga menegaskan komitmennya untuk memperkuat infrastruktur pertanian dan memastikan program bantuan tepat sasaran.
“Kami dorong peningkatan alat dan mesin pertanian serta irigasi, tapi yang paling penting adalah menjaga semangat petani. KTNA punya peran besar di situ,” ujar Kepala Distanak Kukar, Muhammad Taufik.
Taufik juga menilai KTNA merupakan mitra strategis pemerintah dalam menyerap aspirasi petani serta memperkuat komunikasi antara lapangan dan pembuat kebijakan. Dengan sinergi yang baik, program peningkatan produktivitas diharapkan bisa berjalan lebih efektif.
Menutup keterangannya, Lakir optimistis jika kolaborasi antara KTNA, Distanak, dan penyuluh pertanian terus berjalan, maka sektor jagung di Kukar bisa kembali bangkit.
“Kukar punya potensi besar. Selama semangat petani tidak padam dan KTNA tetap solid, saya yakin produksi jagung bisa pulih dan bahkan berkembang lagi,” tutupnya. (WAN/ADV)










