KUKAR, LINGKARKALTIM: Keterbatasan dukungan anggaran daerah tak menyurutkan langkah atlet Muaythai Kukar yang mewakili Kaltim untuk berkompetisi di tingkat nasional.
Berangkat secara mandiri, atlet binaan Arkan Sport Management justru mampu menorehkan prestasi dengan membawa pulang tiga medali emas dan satu perunggu dari ajang Indonesia Muaythai Championship.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa proses pembinaan atlet usia dini dan junior tetap dapat menghasilkan prestasi meski harus dijalani dengan berbagai keterbatasan.
Pembina Arkan Sport Management, Rony Abdurrahman mengatakan keberangkatan atlet dilakukan secara mandiri tanpa dukungan pemerintah daerah. Meski demikian, hasil yang diraih mampu memenuhi target yang telah ditetapkan sejak awal.
“Keberangkatan secara mandiri membuahkan hasil yang cukup maksimal, tiga emas dan satu perunggu. Atlet binaan Arkan Camp ini bisa tampil dan memberikan hasil yang terbaik untuk daerah meski dari awal tanpa dukungan pemerintah daerah,” ucap dia, Senin (10/8/2026)
Tiga medali emas masing-masing dipersembahkan M. Angkasa AB pada kategori U14 kelas 38 kilogram, Sandiego Nababan pada kategori U10 kelas 32 kilogram, serta Chalista Alfarida AB pada kategori U10 kelas 26 kilogram.
Sementara satu medali perunggu diraih Baktisyah Buswar pada kategori U23 Waikru.
Dari seluruh atlet yang diberangkatkan, hanya Al Riski yang harus terhenti pada babak penyisihan pertama.
Di balik empat medali yang berhasil dibawa pulang, terdapat proses panjang yang harus dijalani para atlet.
Persiapan dilakukan selama sekitar satu bulan sebelum keberangkatan menuju lokasi pertandingan.
Perjalanan menuju arena pertandingan juga tidak mudah. Para atlet harus menempuh perjalanan selama dua hari, kemudian tinggal di tempat kost dengan kondisi yang sederhana dan makan seadanya.
“Yang jelas perjuangan kami tidak sia-sia, dari satu bulan masa persiapan hingga keberangkatan yang menempuh dua hari di jalan serta menginap di kost dan makan seadanya,” kata Rony.
Menurutnya, salah satu hal yang membuatnya bangga adalah sikap para atlet yang tetap menjalani seluruh proses tanpa banyak mengeluh.
“Saya bangga dengan anak-anak ini karena tidak pernah mengeluh. Dan mereka layak mendapatkan juara, karena juara itu didapat dari ikhlas menjalani prosesnya,” tuturnya.
Bagi Rony, capaian tersebut bukan hanya tentang medali. Keberhasilan itu juga menjadi bagian dari proses pembentukan mental dan karakter atlet sejak usia dini.
Ia menjelaskan, pembinaan atlet usia dini dan junior memang menjadi salah satu fokus utama Arkan Sport Management.
Rony menyebut, membentuk atlet beladiri hingga mampu menjadi juara nasional pada kategori elite bukanlah pekerjaan mudah.
Oleh karena itu, pengalaman bertanding dan berprestasi di kelompok usia junior dinilai menjadi fondasi penting sebelum atlet naik ke jenjang yang lebih tinggi.
“Target saya memang membina atlet-atlet usia dini atau junior, karena tidak mudah membina atlet beladiri untuk juara nasional di kelas elite,” jelas dia.
Ia berharap pengalaman yang dikumpulkan para atlet sejak kategori junior dapat menjadi modal ketika mereka nantinya memasuki kategori elite.
“Oleh karena itu, pengalaman di kelas junior yang bisa membuat mereka menjadi juara di kategori elite nanti,” ujar Rony.
Keberhasilan di Indonesia Muaythai Championship sekaligus menjadi motivasi bagi Arkan Sport Management untuk terus melakukan pembinaan secara berkelanjutan.
Dia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang tetap memberikan dukungan selama proses pembinaan dan keberangkatan atlet.
“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dari Bunda Rita dan teman-teman member Arkan Camp,” katanya.
Salah satu penyumbang medali emas, M. Angkasa AB, mengaku senang dapat mempersembahkan medali emas setelah melewati pertandingan yang tidak mudah.
“Saya merasa senang sudah berhasil mendapatkan medali emas ini. Tidak mudah, lawan saya cukup tangguh,” ujar dia.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari program latihan yang diberikan pelatih.
Selain kemampuan teknis, para atlet juga dibekali dengan disiplin dan aturan ketat selama mengikuti pertandingan.
Salah satunya adalah larangan menggunakan telepon seluler selama pertandingan agar konsentrasi atlet tidak terganggu.
“Alhamdulillah berkat program latihan yang diberikan oleh pelatih serta arahan-arahan yang diberikan seperti disiplin dan tidak memperbolehkan kami pegang HP selama pertandingan agar kami bisa fokus untuk bertanding,” beberi Angkasa.
Medali emas yang diraih menjadi motivasi bagi dia untuk terus meningkatkan kemampuan.
Ia berharap dapat kembali meraih prestasi sekaligus memberikan kontribusi bagi daerah pada kompetisi berikutnya.
“Selanjutnya kami akan terus mengejar prestasi untuk daerah kami,” pungkasnya. (ASR)










