KUKAR, LINGKARKALTIM: Kabar baik datang dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Kukar sepanjang semester pertama tahun 2026 ini mengalami penurunan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah, mengungkapkan hingga Juni 2026, tercatat ada 304 kasus DBD di Kukar. Angka ini turun drastis dibanding periode Januari hingga Juni 2025 yang sempat menyentuh 753 kasus.
“Artinya ada penurunan kasus DBD di Kukar di periode yang sama dibanding tahun sebelumnya,” ujar Ismi saat memberikan keterangan pada Senin (13/7/2026).
Menurut Ismi, salah satu faktor yang diduga kuat ikut meredam lonjakan kasus ini adalah program vaksinasi DBD yang sudah digulirkan sejak tahun 2025 dengan sasaran anak-anak sekolah.
“Meskipun secara riset resmi belum kita lakukan terkait efek langsung dari vaksinasi, tapi melihat penurunan angka kasus ini, sepertinya sudah mulai berefek. Alhamdulillah, hingga Juli 2026 ini belum terjadi lonjakan kasus signifikan yang menyebabkan status Kejadian Luar Biasa (KLB),” bebernya.
Meski angka kasus melandai, Ismi mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah. Ia meminta warga Kukar tetap menggalakkan gaya hidup sehat dan aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Ketika ditanya mengenai efektivitas penggunaan kelambu dan pengasapan (fogging), Ismi meluruskan penggunaan kelambu sebenarnya lebih tepat untuk pencegahan penyakit malaria, bukan DBD. Sementara untuk fogging, ia menegaskan tindakan tersebut memiliki prosedur yang ketat dan bukan merupakan solusi utama.
“Fogging itu ada prosedurnya. Biasanya baru dilakukan jika terjadi peningkatan kasus yang signifikan minimal dua kali lipat di lokasi yang sama atau jika ada kasus kematian. Itu pun sifatnya fogging fokus,” jelas Ismi.
Fogging massal baru akan dilakukan jika suatu wilayah sudah dinyatakan status KLB. Namun secara medis, fogging dinilai kurang efektif karena hanya membunuh nyamuk dewasa.
“Sebenarnya fogging itu tidak terlalu efektif. Yang paling penting itu membasmi jentik nyamuknya melalui gerakan 3M: mengubur barang bekas, menguras tempat penampungan air, dan mendaur ulang. PSN adalah cara yang paling efektif,” tegasnya.
Dalam pemetaan wilayah, Dinkes Kukar mencatat Kecamatan Muara Badak menjadi wilayah dengan temuan kasus DBD tertinggi sepanjang Januari hingga Juni 2026, yakni sebanyak 27 kasus. Disusul kemudian oleh wilayah Loa Janan dengan 25 kasus, Muara Wis 25 kasus, dan Sungai Merdeka dengan 24 kasus. Sementara itu, untuk wilayah Kecamatan Tenggarong, catatannya relatif aman karena berada di bawah 10 besar.
Ismi juga memberikan klarifikasi mengenai data fatalitas atau kasus kematian akibat DBD di Kukar. Ia meluruskan pada tahun lalu tetap ditemukan adanya korban jiwa.
“Tahun 2025 ada satu kasus kematian karena DBD, yang nol kematian dari Januari sampai Juni 2026,” ucap Ismi meluruskan data sebelumnya.
Pihaknya berharap komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan bisa terus dipertahankan agar angka kasus tidak kembali melonjak.
“Mari sama-sama kita berdoa dan berikhtiar agar tren baik ini bisa terus kita jaga,” pungkas Ismi. (Dil)










