KUKAR, LINGKARKALTIM: Pembangunan Koperasi Merah Putih di Desa Loa Duri Ulu, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) belakangan ini menjadi perbincangan hangat netizen di media sosial TikTok. Banyak masyarakat mempertanyakan pemilihan lokasi bangunan yang dinilai berada di atas perbukitan dan dianggap sulit diakses.
Menanggapi kegaduhan tersebut, Kepala Desa Loa Duri Ulu, Muhammad Arsyad, memberikan klarifikasi langsung pada Sabtu (11/7/2026). Ia menjelaskan bahwa program Koperasi Merah Putih ini merupakan instruksi wajib bagi seluruh desa.
Terkait pemilihan lokasi di Bukit Teratai, Arsyad membeberkan regulasi mengharuskan pembangunan dilakukan di atas lahan milik pemerintah desa dengan luasan minimal 1.000 meter persegi. Pemerintah desa juga dilarang membeli lahan baru atau menggunakan lahan milik swasta/warga.
“Desa kami hanya memiliki lahan pemerintah di Bukit Teratai itu, yang awalnya diproyeksikan untuk lapangan sepak bola. Memang posisinya di atas perbukitan, tapi itu satu-satunya aset lahan kita yang klir secara aturan,” ujar Arsyad.
Ia membantah anggapan lokasi tersebut terisolasi atau sulit dijangkau. Dalam beberapa tahun terakhir, pihak pemerintah desa telah melakukan pematangan lahan dan membuka akses jalan yang kini sudah disemenisasi.
“Dulu memang tidak ada jalan, sekarang sudah disemen. Rumah-rumah penduduk juga banyak dan dekat di sekitar sana. Bahkan, karena berada di ketinggian dengan pemandangan yang bagus, ke depan lokasi ini justru berpotensi kita kembangkan jadi tempat wisata,” tambahnya.
Arsyad juga menegaskan penentuan lokasi ini bukan keputusan sepihak, melainkan sudah melalui mekanisme Musyawarah Desa (Musdes) bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan tokoh masyarakat.
Saat ini, progres pembangunan gedung Koperasi Merah Putih telah mencapai 95 persen dan menyisakan tahap penyelesaian (finishing), seperti instalasi listrik dan perbaikan saluran air.
Berdasarkan petunjuk teknis (juknis) yang ada, koperasi ini nantinya akan menjual kebutuhan pokok (sembako), pupuk, hingga pakan ternak. Potensi pasar di Loa Duri Ulu dinilai sangat besar mengingat mayoritas warga berprofesi sebagai petani dan pembudidaya ikan keramba.
Menariknya, gedung koperasi ini sengaja dibangun berdampingan dengan unit usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bergerak di bidang budidaya ayam petelur. Saat ini, BUMDes tersebut mengelola 1.000 ekor ayam dengan tingkat produktivitas mencapai 75 hingga 80 persen, atau menghasilkan sekitar 24 sampai 26 piring telur per hari.
Pemasaran telur BUMDes ini bahkan sudah merambah ke sektor korporasi, salah satunya bekerja sama dengan PT ABK untuk program CSR warga lingkar tambang, serta memasok kebutuhan pabrik roti minimarket MI1 setiap minggunya.
“Ke depan, Koperasi Merah Putih dan BUMDes ayam petelur ini akan saling bersinergi. Kami berharap pakan ayam tidak perlu lagi mengambil dari Samarinda, melainkan disediakan langsung oleh koperasi. Ini akan memotong jalur distribusi dan saling menguntungkan,” pungkas Arsyad. (Dil)










