SAMARINDA, LINGKARKALTIM: Pemprov Kalimantan Timur (Kaltim) resmi mengoperasikan program Rumah Oksigen sebagai langkah tanggap darurat guna menekan dampak buruk kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terhadap kesehatan masyarakat.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menegaskan fasilitas medis darurat ini disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama bagi warga yang terpapar polusi asap, khususnya kelompok rentan yang mengalami Gangguan Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Untuk pelaksanaannya dikoordinasikan langsung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Kesehatan di masing-masing kabupaten/kota. Saat ini programnya sudah mulai berjalan,” ujar Seno Aji.
Secara teknis operasional, Seno menjelaskan Rumah Oksigen didesain menyerupai puskesmas berukuran kecil (mini clinic) yang ditempatkan di titik-titik krusial. Fasilitas tersebut disokong oleh pasokan tabung oksigen, konsentrator, serta tenaga medis dan perawat yang bersiap memberikan penanganan awal secara intensif.
Pengelolaan fasilitas ini tidak berjalan tunggal di tingkat provinsi, melainkan melibatkan jajaran pemerintah kabupaten/kota agar cakupan layanannya langsung menjangkau pemukiman warga yang paling terdampak.
Di samping penguatan layanan kesehatan darurat, Pemprov Kaltim bersama pemerintah pusat terus memasifkan upaya pemadaman darat dan udara di lokasi-lokasi rawan Karhutla. Dukungan teknis dan logistik dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut dikerahkan untuk mempercepat proses pemadaman.
Seno mengungkapkan, hasil pemantauan titik panas (hotspot) menunjukkan adanya tren penurunan titik api di wilayah Kaltim. Meski demikian, ancaman kabut asap tebal masih dirasakan warga lantaran adanya pergerakan asap kiriman dari luar wilayah Kaltim.
“Berdasarkan hasil koordinasi, jumlah titik api di internal Kaltim sebenarnya mulai turun. Namun, kabut asap yang dirasakan masyarakat saat ini juga dipicu oleh asap kiriman dari tetangga luar wilayah,” bebernya.
Meskipun dihadapkan pada faktor asap kiriman, Seno menegaskan bahwa hal tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi satgas daerah untuk melonggarkan pengawasan. Pemprov Kaltim meminta seluruh personel di lapangan tetap sigap memastikan tidak ada sisa gambut atau lahan terbakar yang kembali menyala dan memicu asap baru.
“Kondisi ini tidak boleh membuat kita mengabaikan penanganan di daerah sendiri. Pemda harus memastikan setiap titik api di Kaltim benar-benar padam total dan tidak kembali membara,” pungkasnya. (dev)










