KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat komitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program Wajib Belajar Satu Tahun Prasekolah.
Program ini menjadi langkah awal untuk membangun fondasi pendidikan, karakter, dan keterampilan anak sebelum memasuki jenjang sekolah dasar.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Heriansyah, mengatakan pendidikan anak usia dini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi emas yang mampu menghadapi tantangan masa depan.
Menurutnya, Pemkab Kukar telah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 21 persen dari total APBD 2026 atau sekitar Rp1,19 triliun. Anggaran tersebut mencakup belanja pegawai, dukungan operasional sekolah, hingga berbagai program bantuan pendidikan.
“Komitmen pemerintah daerah harus diikuti dengan pelaksanaan program yang baik. Kita perlu memastikan seluruh program pendidikan tersampaikan kepada masyarakat dan tepat sasaran,” ujarnya, Senin (26/10/26).
Selain mendukung operasional sekolah melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Pemkab Kukar juga memberikan perhatian kepada sekolah yang membutuhkan dukungan khusus serta menyediakan bantuan seragam, sepatu, dan tas bagi peserta didik baru.
Heriansyah menegaskan, pendidikan prasekolah bukan sekadar mengajarkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, pendidikan pada usia dini berperan membentuk kedisiplinan, kemandirian, kemampuan berkomunikasi, serta karakter anak.
Terlebih, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Kukar untuk menyiapkan generasi yang memiliki keterampilan dan daya saing.
“Kita tidak ingin hanya menjadi penonton. Kita harus mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul agar mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah maupun IKN,” jelasnya.
Sementara itu, Bunda PAUD Kukar, Andi Deezca Pravidhia, mengajak seluruh pihak aktif mendata dan mengajak anak usia prasekolah mengikuti layanan pendidikan anak usia dini (PAUD).
Ia menekankan pentingnya pendekatan langsung kepada masyarakat, terutama keluarga di wilayah perdesaan, pesisir, dan daerah terpencil, agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan karena keterbatasan informasi, jarak, maupun ekonomi.
“Kita tidak bisa hanya menunggu masyarakat datang. Kita harus jemput bola, turun langsung ke lapangan, dan memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan belajar,” ungkapnya.
Andi Deezca juga mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat, termasuk dalam pemenuhan gizi, layanan kesehatan, serta perlindungan anak.
Menurutnya, pembelajaran PAUD harus menyenangkan, berbasis bermain, dan sesuai tahap perkembangan anak, bukan membebani mereka dengan tuntutan akademik yang berlebihan.
Melalui program ini, Pemkab Kukar berharap akses pendidikan semakin merata dan kualitas layanan PAUD terus meningkat. Dukungan seluruh pihak diharapkan mampu mewujudkan generasi Kukar yang sehat, cerdas, mandiri, dan berkarakter. (Adv/dil)










