Tenggarong Butuh Penyegaran Sistem Hydrant, Disdamkarmatan dan Disperkim Kukar Perkuat Kolaborasi

Hydrant kering Di Kawasan Jalan Maduningrat, Tenggarong. (Doc. Kukar Paper)
Hydrant kering Di Kawasan Jalan Maduningrat, Tenggarong. (Doc. Kukar Paper)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Ancaman musibah kebakaran di kawasan padat penduduk Kota Tenggarong menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar). Minimnya ketersediaan hidran di titik-titik krusial mendorong Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar untuk memperkuat kolaborasi dalam menyusun perencanaan sistem mitigasi yang lebih matang.

Kepala Disperkim Kukar, M. Aidil, mengungkapkan bahwa ketersediaan jaringan hydrant di Ibu Kota Tenggarong saat ini masih jauh dari kata ideal. Pihaknya berencana menggandeng Disdamkarmatan untuk memetakan kembali kebutuhan dan infrastruktur penunjang di lapangan.

Read More
banner 300x250

“Kami harus kembali berkoordinasi dan bekerja sama dengan Damkarmatan untuk membuat perencanaan. Khususnya di Ibu Kota Tenggarong, keberadaan hidran memang masih kurang. Perencanaannya harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk berkoordinasi dengan bidang PSU (Prasarana, Sarana, dan Utilitas), baik terkait jalan maupun lingkungan permukiman,” ujar Aidil, Rabu (7/10/2026).

Ia menegaskan, keberadaan hidran sangat krusial di kawasan padat penduduk maupun area permukiman baru. Namun, pembuatan hydrant tidak boleh asal pasang tanpa memperhitungkan ketersediaan pasokan air.

“Paling penting adalah sumber airnya tersedia. Jangan sampai kita membangun hidran tetapi sumber airnya tidak ada. Karena itu, perencanaannya harus matang melalui pendataan dan kolaborasi antar-OPD,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani, menegaskan kehadiran hydrant merupakan kebutuhan mutlak bagi sistem keselamatan kota. Kendati demikian, dinasnya tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan lintas instansi, seperti Disperkim, Dinas PU, hingga PDAM.

Fida menceritakan pengalaman pemadaman di lapangan yang kerap terhambat akibat kendala pasokan air saat armadanya harus melakukan pengisian ulang (refill).

“Dalam kurun waktu sekitar 30 menit, kami memuntahkan tiga tangki dengan kapasitas total 30 ribu liter. Api sebenarnya sudah bisa ditekan. Namun, saat armada harus kembali mengantre untuk mengisi ulang air, arah angin berubah dan api membesar lagi. Ini fakta di lapangan bahwa titik lemah kita ada pada ketersediaan sumber air,” beber Fida.

Sebagai solusi konkret jangka pendek, Disdamkarmatan telah menginisiasi pembangunan sistem hydrant kering yang terbukti efektif memangkas jarak pengisian air hingga satu kilometer, seperti yang sudah terpasang hingga area Simpang Tiga Kartini.

Pemkab Kukar mulai memperkenalkan sistem hydrant kering sebagai proyek percontohan yang digagas Damkarmatan Kukar. Sejumlah kota besar di Indonesia telah lebih dahulu menerapkan sistem serupa, dan Kukar siap mengadopsinya secara bertahap.

Saat ini, Damkarmatan Kukar telah memiliki empat unit mesin hydrant kering. Namun, pembangunan jaringan pipa masih menjadi tantangan karena membutuhkan anggaran yang cukup besar.

“Penerapan hydrant kering dilakukan secara bertahap, dengan prioritas di wilayah padat penduduk dan rawan kebakaran,” jelasnya.

Berdasarkan data pemerintah daerah, terdapat lebih dari 30 titik kampung kumuh di Kutai Kartanegara yang tersebar di 20 kecamatan.

Ke depan, sistem hydrant kering ditargetkan dapat diperluas untuk mempercepat respons penanganan kebakaran dan meminimalkan risiko kerugian akibat musibah kebakaran.

“Evaluasi kami, hidran kering tersebut berfungsi 100 persen sesuai perencanaan dan sangat membantu petugas di lapangan. Ke depan, kami ingin mendorong jaringan hidran kering ini masuk lebih jauh ke dalam kawasan permukiman,” terangnya.

Fida juga menyoroti salah satu wilayah permukiman yang masuk dalam kategori “zona merah” rawan kebakaran di Kecamatan Tenggarong, yakni kawasan segitiga Danau Aji yang terhubung dengan Jalan A.M. Alimuddin dan Jalan Danau Lipan.

Karakteristik permukiman padat serta minimnya akses visual dan sumber air di bagian tengah kawasan tersebut menjadi tantangan tersendiri.

“Untuk kawasan seperti Danau Aji, mitigasi yang paling memungkinkan adalah membangun hidran kering dan menempatkan tandon air. Karena itu, kami sangat membutuhkan kerja sama dengan pihak RT dan masyarakat setempat agar proses mitigasi dan penyediaan titik air ini berjalan lancar,” pungkasnya. (Adv/dil)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *