DLHK Kukar Dorong Budi Daya Maggot: Solusi Cepat Urus Sampah Organik Hingga Bikin Hemat Pakan Ternak

Magot atau larva atau belatung dari jenis lalat tentara hitam. (Doc. Syahrian)
Magot atau larva atau belatung dari jenis lalat tentara hitam. (Doc. Syahrian)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM:  Penanganan sampah organik di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kini punya jurus ampuh yang makin digemari masyarakat. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) gencar mendorong pengembangan budi daya maggot Black Soldier Fly (BSF).

Tak cuma ampuh mengurai limbah rumah tangga dengan cepat, larva lalat ini terbukti sukses menekan biaya pakan ternak warga hingga puluhan persen.

Read More
banner 300x250

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, menjelaskan bahwa maggot memiliki nafsu makan yang sangat tinggi terhadap berbagai jenis sampah organik. Mulai dari sisa makanan, sayuran, hingga jeroan ikan dan ayam bisa diurai tanpa menyisakan bau tak sedap.

“Maggot itu salah satu solusi yang sangat cepat, mudah, dan efektif untuk penanganan sampah organik. Ibaratnya, mau beli lalatnya bisa, telurnya bisa, atau langsung maggotnya pun bisa. Sampah jenis apa pun yang diberikan bakal langsung dilahap habis sebelum sempat berbau,” ujar Tri Joko, Sabtu (26/9/2026).

Menariknya, budi daya maggot tidak hanya berhenti di urusan limbah. DLHK Kukar mencatat banyak kelompok pembinaan seperti bank sampah dan organisasi lingkungan yang memanfaatkan maggot sebagai pakan alternatif bernutrisi tinggi.

Salah satu pemanfaatan yang paling terasa dampaknya adalah pada sektor peternakan ayam petelur. kandungan protein maggot yang melimpah terbukti mendongkrak produksi telur secara signifikan dibanding pakan biasa.

Tak hanya kelompok binaan pemerintah, potensi maggot BSF juga dilirik oleh para petani milenial daerah. Syahrian, pemilik Urghulu Greenfarm di kawasan Gunung Sentul, memanfaatkan sisa daun selada hasil sortir hidroponiknya sebagai pakan maggot BSF.

Langkah kreatif Syahrian ini terbukti membuahkan hasil manis. Hanya berbekal 7 gram telur BSF, ia mampu memanen sekitar 30 hingga 40 kilogram maggot yang kini sudah memasuki tahap prapupa.

“Budi daya maggot BSF ini jadi peluang besar karena peternaknya masih jarang, padahal kebutuhan pakan ternak terus naik. Kami pakai maggot ini sebagai pakan alternatif ayam dan terbukti bisa mengurangi pakan pabrikan atau pur sampai 60 persen,” kata Syahrian, Sabtu (26/9/2026).

Dari sisi ekonomi, maggot juga memiliki nilai jual yang lumayan menggiurkan. Tri Joko menyebut harga maggot di pasaran Kukar berada di kisaran Rp1.000 hingga Rp15.000 per kilogram tergantung jenis produknya.

Sementara itu, Urghulu Greenfarm memilih mematok harga ramah kantong yakni Rp10.000 per kilogram untuk membantu sesama peternak lokal. Meski sempat menuai protes dari rekan peternak yang menganggap harganya layak disetarakan dengan jangkrik di angka Rp50.000 per kilogram, Syahrian tetap konsisten dengan harga terjangkau agar peternak kecil bisa ikut memangkas ketergantungan pada pakan pabrikan.

Melalui sinergi antara program DLHK Kukar dan aksi nyata pelaku usaha muda seperti Urghulu Greenfarm, pengolahan sampah berbasis budi daya maggot ini diharapkan terus meluas.

Langkah sederhana ini tidak hanya mewujudkan lingkungan Kukar yang lebih bersih, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi kreatif dan pertanian berkelanjutan. (Adv/dil)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *