Baturunan Parau, Warisan Budaya Banua yang Terus Dijaga di Tengah Perubahan Zaman

Prosesi Baturunan Manurunkan Parau sebuah tradisi adat bagi masyarakat Banua di Tepian Gunung Tabur, yang dilakukan pada Sabtu (19/9/2026).(Nazriel/Lingkarkaltim)
Prosesi Baturunan Manurunkan Parau sebuah tradisi adat bagi masyarakat Banua di Tepian Gunung Tabur, yang dilakukan pada Sabtu (19/9/2026).(Nazriel/Lingkarkaltim)
banner 468x60

BERAU, LINGKARKALTIM:  Baturunan Manurunkan Parau sebuah tradisi adat bagi masyarakat Banua di Tepian Gunung Tabur, yang dilakukan pada Sabtu (19/9/2026). Tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan adat. Di dalamnya tersimpan nilai kebersamaan, gotong royong, serta hubungan sosial yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak masa lalu.

Kini, di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, keberadaan tradisi seperti Baturunan Parau menghadapi tantangan yang berbeda. Bukan hanya bagaimana mempertahankan pelaksanaannya, tetapi bagaimana memastikan generasi muda tetap mengenal dan memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Read More
banner 300x250

Pemerintah Kabupaten Berau pun mendorong agar Baturunan Parau tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.Tradisi tersebut justru diharapkan dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal akar budayanya sekaligus dikembangkan sebagai salah satu potensi wisata budaya daerah.

Pesan itu disampaikan Wakil Bupati Berau Gamalis saat menghadiri pelaksanaan Baturunan Manurunkan Parau di Tepian Gunung Tabur.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan HUT ke-216 Kota Tanjung Redeb.

“Kegiatan ini warisan nenek moyang kita yang menjadi bagian dari budaya Suku Banua yang menggambarkan hidup saling bergotong royong,” kata Gamalis.

Menurutnya, kekuatan sebuah tradisi tidak hanya terletak pada keberlangsungannya dari tahun ke tahun. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana nilai-nilai di dalamnya tetap dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, generasi muda perlu diberi kesempatan untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan adat.Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan adat menjadi salah satu cara untuk menjaga hubungan sosial sekaligus memperkenalkan budaya daerah secara langsung kepada anak-anak dan generasi muda.

“Bagi kami menjaga tradisi tidak berarti membiarkannya berjalan tanpa pengembangan. Warisan budaya juga dapat memiliki nilai ekonomi apabila dikelola secara tepat tanpa menghilangkan identitas dan nilai adat yang melekat di dalamnya,”terangnya.

Baturunan Parau menjadi salah satu tradisi yang dinilai memiliki peluang tersebut.Kabupaten Berau selama ini dikenal memiliki kekayaan wisata alam dan bahari.

Namun, kekayaan tersebut dapat diperkuat dengan menghadirkan pengalaman wisata berbasis budaya dan sejarah masyarakat setempat.

Gamalis mengatakan, Baturunan Parau dapat menjadi salah satu bagian dari pengembangan wisata budaya di daerah.

“Ini menjadi bagian dari objek wisata yang harus kita kembangkan,” tuturnya. Pengembangan tersebut, kata dia, diharapkan tidak hanya menjadikan tradisi sebagai tontonan bagi wisatawan. Lebih dari itu, keberadaan budaya tetap harus memberikan ruang bagi masyarakat lokal sebagai pemilik tradisi untuk terus menjaga dan menjalankannya.

Dengan demikian, wisata budaya tidak semata-mata menghadirkan sebuah pertunjukan, tetapi juga memperkenalkan cerita, nilai, sejarah, dan kehidupan masyarakat yang berada di balik tradisi tersebut.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, proses pewarisan budaya menjadi tantangan tersendiri. Tradisi yang tidak lagi dikenal oleh generasi muda berpotensi semakin jauh dari kehidupan masyarakat. Karena itu, pelibatan anak-anak dan generasi muda dalam kegiatan adat menjadi salah satu langkah penting agar budaya tidak hanya tersimpan dalam cerita para tetua. Gamalis mengapresiasi para tokoh adat dan masyarakat Gunung Tabur yang selama ini dinilai konsisten menjaga keberadaan budaya Banua.

Menurutnya, keberadaan para tokoh adat dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mempertahankan warisan leluhur agar tetap memiliki tempat di tengah kehidupan modern.

Pelestarian budaya, lanjutnya, membutuhkan keterlibatan bersama. Pemerintah, tokoh adat, masyarakat, hingga generasi muda memiliki peran masing-masing agar tradisi tidak terputus di satu generasi. Pelaksanaan Baturunan Parau tahun ini juga berlangsung dalam situasi lain yang turut menjadi perhatian pemerintah daerah. Berau tengah menghadapi musim kemarau yang cukup panjang. Kondisi tersebut meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus berdampak terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian kegiatan masyarakat dilaksanakan di ruang terbuka.

“Kualitas udara kita juga belum menunjukkan status sehat, sehingga menjadi dilema untuk berbagai kegiatan, khususnya yang dilaksanakan di luar ruangan,” jelas Gamalis.

Meski demikian, momentum pelaksanaan tradisi tersebut kembali menjadi pengingat bahwa kekayaan daerah tidak hanya berada pada bentang alam dan sumber daya wisata, tetapi juga pada budaya yang hidup di tengah masyarakat.Baturunan Parau menjadi salah satu contoh bagaimana warisan masa lalu masih dapat menemukan ruang di tengah kehidupan masa kini.

Gamalis berharap seluruh pihak dapat terus bersatu dalam menjaga budaya daerah sekaligus memberikan ruang yang lebih luas kepada generasi muda untuk mengenal dan meneruskan warisan leluhur.

“Marilah kita senantiasa bersatu untuk melestarikan dan mengajarkan budaya kepada generasi muda. Kita semua berharap warisan kekayaan budaya ini dapat terus terjaga dan bermanfaat untuk generasi selanjutnya,” pungkasnya.

Pelaksanaan Baturunan Manurunkan Parau turut dihadiri Sultan Gunung Tabur Adji Raden Muhammad Bakhrun, Sultan Sambaliung Datu Amir, Wakil Ketua II DPRD Berau, anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, jajaran Forkopimda, pemangku Kesultanan Gunung Tabur dan Sambaliung, serta sejumlah kepala OPD. (riel)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *