KUKAR, LINGKARKALTIM: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kukar meminta pemerintah daerah dapat meramaikan Tangga Arung Square (TAS).
Anggota DPRD Kukar Akbar Haka mengatakan, kondisi TAS saat ini sangat sepi dan ini menjadi keluhan hampir seluruh pedagang.
“Ketika saya sidak, banyak pedagang yang mengeluh atas penjualan yang sepi di TAS ini,” kata Akbar Haka pada Lingkarkaltim, di Tenggarong, Selasa (7//7/2026).
Sejumlah pedagang juga menyampaikan sepinya pengunjung karena di kawasan TAS tak terdapat komoditas bahan pangan mentah.
“Dengan kondisi ini, para pedagang lebih memilih berjualan di luar pasar. Sehingga menimbulkan tata kota semerawut,” ucapnya.
Sesuai dengan peraturan daerah (Perda), terdapat penataan pedagang bahwa di Pasar Gerbang Raja Mangkurawang itu merupakan pedagang basah dan TAS itu merupakan pedagang kering.
“Untuk itu, perda ini harus ditinjau kembali tata kelola harus dibenahi, supaya TAS ini ramai,” ujarnya.
Menurutnya, dalam penataan pedagang jika TAS itu dimasukan pedagang basah harus melibatkan para pedagang Pasar Gerbang Raja Mangkurawang.
Hal ini harus dilakukan, untuk menghindari konflik sosial. Pasalnya, keberadaan TAS dan Gerbang Raja Mangkurawang memiliki lokasi yang strategis.
Untuk lokasi TAS, mempermudah atau menjangkau masyarakat di wilayah Tenggarong, Loa Kulu, Tenggarong Seberang dan sekitarnya.
Sedangkan pasar Gerbang Raja Mangkurawang, mempermudah masyarakat Rapak Lambur, Senoni, Sebulu dan sekitar nya.
Menanggapi hal itu, Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar Sayid Fathullah menjelaskan, TAS ini merupakan pusat belanja masyarakat untuk jenis kering. Jika TAS ini digabung dengan pedagang basah, maka tidak ada tempat bagi pedagang basah.
“Pastinya ini juga menimbulkan konflik antara pedagang TAS dan Mangkurawang. Konsep pembangunan awal TAS ini ialah pusat belanja modern,” jelas Sayid Fathullah.
Pihaknya juga terus berupaya meramaikan TAS. Sehingga pertumbuhan ekonomi di TAS berjalan dengan baik. (Kik)










