KUKAR, LINGKARKALTIM: Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Selain meningkatnya aktivitas ibadah, kemunculan Bazar Ramadan menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat, terutama dalam berburu aneka kuliner tradisional khas daerah.
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah beragam kue khas Kutai yang hanya mudah dijumpai saat Ramadan.
Kue-kue tradisional seperti jendral mabok, podang kentang, sendapak, amparan tetak, bingkak, hingga berbagai jenis kue basah lainnya menjadi incaran utama warga untuk menu berbuka puasa.
Fenomena tersebut tidak hanya menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap kuliner lokal, tetapi juga menjadi momentum penting bagi pelaku usaha kecil untuk meningkatkan pendapatan selama Ramadan.
Di Basar Ramadan yang dibuka di halaman Pasar Tangga Arung Square, lapak-lapak kue tradisional hampir selalu dipadati pembeli menjelang waktu berbuka.
Harga yang relatif terjangkau, mulai dari Rp10 ribu per potong, membuat kue khas Kutai dapat dinikmati berbagai kalangan masyarakat.
Salah seorang pedagang kue Bazar Ramadan, Melanda mengungkapkan bahwa permintaan kue khas Kutai meningkat signifikan selama bulan puasa dibandingkan hari-hari biasa.
“Namun, ketika momen Ramadan, kue-kue tersebut akan banyak ditemui di pasar Ramadan,” ucap dia, Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan, di luar bulan Ramadan, kue-kue tradisional tersebut jarang diproduksi secara massal karena permintaan yang tidak setinggi saat bulan puasa.
Sebaliknya saat Ramadan, produksi kue meningkat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang menjadikannya sebagai menu favorit berbuka.
Dia mengatakan, jenis kue basah khas Kutai memiliki cita rasa yang khas dan berbeda dari kue modern, sehingga tetap diminati lintas generasi. Banyak pembeli yang bahkan sengaja datang lebih awal agar tidak kehabisan.
Hal senada disampaikan salah seorang pengunjung Basar Ramadan, Yusni yang mengaku hampir setiap tahun berburu kue khas Kutai untuk berbuka puasa bersama keluarga.
“Selain rasanya yang sangat enak, kue-kue ini memang kue khas ketika momen bulan Ramadan,” katanya.
Ia juga mengakui bahwa kue-kue tradisional tersebut sering kali cepat habis terjual sebelum waktu berbuka.
Jika datang terlambat, pembeli kerap tidak kebagian karena tingginya minat masyarakat.
“Kalau terlambat ke pasar Ramadan, biasanya sudah habis,” tambah dia.
Maraknya penjualan kue khas Kutai selama Ramadan tidak hanya menjadi tradisi kuliner, tetapi juga bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.
Keberadaan kue-kue tradisional di Bazar Ramadan turut memperkenalkan kembali warisan kuliner daerah kepada generasi muda yang mungkin jarang menemukannya di luar bulan puasa.
Di sisi lain, geliat Bazar Ramadan juga memberikan dampak ekonomi yang cukup signifikan bagi pelaku UMKM dan pedagang rumahan.
Dengan meningkatnya jumlah pembeli, banyak pelaku usaha yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk menambah penghasilan melalui penjualan kue tradisional.
Dengan antusiasme masyarakat yang terus tinggi setiap tahunnya, kue khas Kutai diprediksi akan tetap menjadi primadona di Basar Ramadan Tenggarong, sekaligus menjadi simbol kekayaan kuliner lokal yang terus hidup di tengah perkembangan zaman. (ASR)










