Koperasi Merah Putih di Kukar Masih Belum Banyak Beroperasi

Plt. Kepala Diskop-UKM Kukar Thaufiq Zulfian Noor. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
Plt. Kepala Diskop-UKM Kukar Thaufiq Zulfian Noor. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Dari total 237 koperasi Merah Putih yang telah diresmikan di seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), baru 7 koperasi yang benar-benar beroperasi.

Plt. Kepala Dinas Koperasi dan UKM (Diskop-UKM) Kukar, Thaufiq Zulfian Noor menerangkan bahwa banyak koperasi yang masih dalam tahap persiapan usaha dan menunggu realisasi kemitraan dengan sejumlah pihak terkait.

Read More
banner 300x250

Ia menjelaskan, sejumlah koperasi sudah memiliki konsep usaha, tetapi masih menunggu proses finalisasi kemitraan dengan berbagai pihak seperti Bulog, Pupuk Indonesia, dan Pertamina.

“Mereka sedang menyiapkan kebutuhan tabung, pupuk, dan berasnya,” kata dia kepada awak media, Kamis (13/11/2025).

Ia menyebut bahwa jenis usaha koperasi juga harus menyesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing.

Menurutnya, kesalahan dalam menentukan bidang usaha bisa membuat koperasi sulit berkembang karena tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kapasitas pasar setempat.

“Di beberapa daerah, terutama kelurahan, usaha masyarakat itu sudah lengkap. Ada laundry, apotek, klinik, dan lainnya. Jadi pengurus koperasi harus jeli memilih bidang usaha yang relevan agar tidak tumpang tindih,” sebut Thaufiq.

Diskop-UKM Kukar, lanjut dia, akan memberikan pendampingan dan analisis potensi lokal untuk membantu koperasi menentukan arah bisnis yang paling prospektif di wilayah masing-masing.

Kondisi di wilayah hulu, pesisir, maupun perkotaan memiliki tantangan dan karakter ekonomi yang berbeda-beda.

“Pendekatan penyelesaiannya tidak bisa parsial, karena tiap desa dan kelurahan punya kendala yang berbeda. Walaupun mirip, penyelesaiannya tetap harus disesuaikan,” jelasnya.

“Misalnya di Loa Kulu banyak usaha perikanan tawar, tapi kalau penduduknya sedikit, siapa yang konsumsi hasilnya? Artinya manajemennya harus berbeda dengan Samboja yang dekat pantai,” tambahnya.

Thaufiq mengatakan, upaya membangun koneksi antar-koperasi agar terjadi rantai ekonomi saling mendukung antarwilayah memerlukan waktu dan perencanaan matang.

Diskop-UKM Kukar saat ini terus mendorong agar tiap koperasi tidak hanya berdiri sendiri, tetapi bisa saling terhubung dalam sistem ekonomi yang lebih besar.

“Membangun koneksi antar-koperasi ini butuh waktu dan banyak treatment. Tapi pelan-pelan akan kita jalankan,” tutup dia. (ASR/ADV)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *