KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berinovasi dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian melalui penerapan pengendalian hama ramah lingkungan. Salah satu langkah strategis yang kini digencarkan adalah pembinaan petani dalam pembuatan pestisida nabati, sebagai alternatif pengganti bahan kimia sintetis.
Plt. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distanak Kukar, Taufik, mengatakan bahwa penggunaan pestisida nabati menjadi bagian penting dari program pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu. Upaya ini tidak hanya bertujuan menekan serangan hama, tetapi juga melindungi lingkungan serta menjaga kesehatan petani dan konsumen.
“Selama ini petani banyak bergantung pada pestisida kimia. Padahal, bahan alami di sekitar mereka bisa dimanfaatkan untuk membuat pestisida yang lebih aman dan tetap efektif,” ungkap Taufik, Selasa (7/10/2025).
Menurutnya, melalui kegiatan pembinaan lapangan, Distanak Kukar mengajarkan petani cara membuat pestisida nabati menggunakan bahan seperti daun mimba, serai, tembakau, bawang putih, dan lengkuas. Bahan-bahan tersebut memiliki kandungan alami yang dapat mengusir atau membasmi hama tanpa menimbulkan residu berbahaya di tanah maupun hasil panen.
“Kami dorong petani agar mampu membuat sendiri pestisida nabati menggunakan bahan yang ada di sekitar. Dengan begitu, mereka tidak hanya hemat biaya, tapi juga lebih mandiri,” jelasnya.
Selain pelatihan teknis, Distanak juga mengintegrasikan penerapan pestisida nabati dengan program Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Melalui pendekatan ini, petani diajak memahami keseimbangan ekosistem pertanian agar hama dapat dikendalikan secara alami tanpa merusak organisme berguna.
“Kami ingin menciptakan pertanian yang sehat dan berkelanjutan. Pestisida nabati menjadi salah satu kunci agar produksi tetap tinggi tanpa merusak lingkungan,” tambah Taufik.
Program ini telah diterapkan di sejumlah kelompok tani di Kukar dan menunjukkan hasil yang positif. Serangan hama dapat ditekan, sementara kualitas hasil panen tetap terjaga. Pemerintah daerah berharap, inisiatif ini dapat diperluas ke seluruh wilayah agar petani semakin terbiasa menggunakan bahan ramah lingkungan dalam kegiatan budidaya mereka.
“Kemandirian petani dalam membuat pestisida nabati akan menjadi modal besar bagi ketahanan pangan daerah ke depan,” tandasnya. (WAN/ADV)










