KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Kartanegara (Kukar) terus berupaya mencari pihak ketiga yang mampu mengelola Pasar Tangga Arung Square secara profesional.
Plt.Kepala Disperindag Kukar, Sayid Fathullah menjelaskan bahwa kebutuhan akan pengelola profesional muncul karena keterbatasan ruang gerak ASN yang terikat aturan jam kerja.
Sementara aktivitas pasar justru berlangsung paling ramai pada sore hingga malam hari, termasuk saat akhir pekan.
Disperindag memang menjadi organisasi perangkat daerah yang bertanggung jawab mengelola seluruh pasar di bawah kewenangannya.
Selain Tangga Arung Square, Disperindag juga membina sejumlah pasar lain seperti Pasar Sanga-Sanga, Pasar Wonotirto dan Kuala Samboja, Pasar Loa Kulu, serta Pasar Mangkurawang.
“Disperindag itu memang pengampu pasar. Tapi kami terikat aturan ASN. Jam kerja kami jelas, Senin sampai Kamis, pagi sampai sore. Sabtu dan Minggu juga libur. Padahal pasar justru ramai pada sore, malam, dan akhir pekan,” kata dia, Sabtu (30/5/2026).
Kondisi itu pun membuat Disperindag Kukar membutuhkan mitra yang dapat mengisi kekosongan pengawasan dan pengelolaan di luar jam kerja pemerintah.
Keberadaan pengelola sangat penting untuk memastikan keamanan, kebersihan, ketertiban pedagang, hingga pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan setiap hari.
Ia mengungkapkan, pihaknya telah menawarkan peluang pengelolaan tersebut kepada sejumlah lembaga dan organisasi.
“Tetapi sampai sekarang belum ada yang benar-benar berminat atau siap mengelola,” sebut Fathullah.
Menurut dia, pengelolaan kawasan sebesar Tangga Arung Square membutuhkan sumber daya manusia dan komitmen yang tidak sedikit.
Pengelola harus mampu hadir ketika aktivitas pasar berlangsung paling sibuk, termasuk pada malam hari dan hari libur.
Tanpa dukungan pihak ketiga, beban pengawasan praktis masih ditangani langsung oleh Disperindag Kukar.
Bahkan tidak jarang sejumlah pegawai harus turun ke lapangan di luar jam kerja untuk memastikan aktivitas pasar tetap berjalan dengan baik.
“Kami berusaha semaksimal mungkin. Kadang hari libur juga harus turun ke lapangan. Tetapi tentu tidak bisa terus-menerus seperti itu karena ada keterbatasan aturan dan sumber daya yang kami miliki,” ujarnya.
Di tengah belum adanya pengelola profesional, Disperindag memilih memperkuat kolaborasi dengan Forum Pedagang Pasar dan Kaki Lima yang selama ini menjadi wadah komunikasi para pedagang di Tangga Arung Square.
Forum tersebut berperan penting dalam membantu pemerintah menjaga ketertiban dan keberlangsungan aktivitas perdagangan di kawasan pasar yang baru diresmikan tersebut.
“Alhamdulillah mereka mau diajak bekerja sama untuk membantu pemerintah mengelola dan menjaga pasar ini,” ungkap dia.
Ia berharap kolaborasi tersebut mampu menjadi solusi sementara sembari menunggu hadirnya pihak ketiga yang memiliki kemampuan manajerial dan operasional untuk mengelola kawasan secara lebih profesional.
Pasalnya, pemerintah daerah menargetkan pasar Tangga Arung Square menjadi salah satu ikon baru Tenggarong yang mampu menarik kunjungan warga maupun wisatawan dari luar daerah.
Berbagai fasilitas penunjang telah disiapkan, mulai dari area kuliner, pusat perdagangan, ruang terbuka, hingga kawasan bermain anak yang terintegrasi dengan destinasi di sekitarnya seperti Taman Superhero.
Maka dari itu, keberadaan pengelola profesional dianggap menjadi salah satu kunci agar kawasan tersebut dapat berkembang sesuai konsep yang telah dirancang pemerintah.
Fathullah berharap dalam waktu dekat ada pihak yang tertarik untuk bermitra dengan pemerintah dalam mengelola Tangga Arung Square.
Dengan manajemen yang baik, kawasan tersebut diyakini mampu menjadi pusat perdagangan dan rekreasi yang nyaman bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan nanti kita menemukan pengelola yang benar-benar profesional sehingga Tangga Arung Square bisa berkembang menjadi pasar yang nyaman untuk berbelanja, berwisata, berolahraga, dan menjadi kebanggaan masyarakat Kutai Kartanegara,” tutupnya. (ASR)










