BERAU, LINGKARKALTIM: Potensi Kabupaten Berau terus menggeliat bahkan, salah satu potensi yang mulai menunjukkan jejak di pasar internasional adalah Kakao. Dalam kurun 2023 hingga 2025, Berau telah mengekspor 23 ton biji kakao ke sejumlah negara. Pada 2026, ekspor kembali dilakukan dengan volume 11,5 ton yang dikirim ke Prancis dan Swiss.
Angka tersebut memang bukan sekadar catatan volume ekspor. Bagi Berau, ekspor kakao menjadi gambaran bahwa komoditas lokal memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh, bahkan memasuki pasar internasional.
“Dari perkebunan masyarakat di Berau, biji Kakao tidak lagi hanya berhenti di pasar lokal. Komoditas tersebut mulai memiliki jalur menuju konsumen di luar negeri,”ungkap Bupati Berau Sri Juniarsih Mas, baru-baru ini.
Potensi ekonomi juga tambahnya, terlihat dari sektor pertanian. Hingga Agustus 2026, luas tanam padi di Berau mencapai 2.711,2 hektare dengan produksi 7.862,48 ton gabah kering. “Sementara luas tanam jagung mencapai 842,8 hektare dengan produksi 3.851 ton jagung pipil kering,”terangnya.
Sektor perikanan dikatakan juga tak kalah penting. Produksi perikanan Berau mencapai sekitar 35 ribu ton per tahun, yang berasal dari perikanan tangkap, budidaya dan pengolahan. Potensi-potensi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah membangun ekonomi yang bertumpu pada kekuatan lokal. “Karena itu, pembangunan infrastruktur memiliki peran yang lebih besar dari sekadar pembangunan fisik,”kata Bupati Sri Junairsih Mas.
Jembatan membuka akses. Dermaga memperlancar mobilitas. Jalan distribusi menghubungkan sentra produksi dengan pasar. Pada akhirnya, konektivitas diharapkan menciptakan ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan nilai ekonomi dari potensi daerah. Di sinilah pembangunan infrastruktur dan pengembangan ekonomi bertemu.
“Ketika akses dari wilayah hulu dan pesisir semakin terbuka, sektor pertanian, perikanan, perkebunan, pariwisata hingga UMKM memiliki peluang untuk berkembang lebih luas,”ungkapnya. Dan ketika produk lokal seperti kakao mulai menembus pasar internasional, muncul gambaran bahwa potensi ekonomi Berau tidak hanya memiliki nilai bagi kebutuhan daerah, tetapi juga memiliki peluang bersaing di luar wilayah.
Masih menurut Bupati sri Junairsih Mas , pekerjaan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sebagai pelaku utama ekonomi daerah. Sebab, pada akhirnya, keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang berapa banyak jembatan, dermaga atau fasilitas yang berhasil dibangun. Ukurannya juga terletak pada seberapa jauh infrastruktur tersebut membuka kesempatan, menggerakkan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Dari hulu Kelay hingga pesisir, dari lahan pertanian hingga perairan, dan dari perkebunan kakao hingga pasar internasional, Berau tengah membangun satu mata rantai, membuka akses, menggerakkan potensi dan memperluas peluang ekonomi,”tutupya. (Riel/Advetorial)










