Promosikan Kuliner Lokal, Pemkab Berau Dorong Hotel Libatkan UMKM dalam Pengembangan Makanan Khas Daerah

Wakil Bupati Berau, Gamalis.(Nadzriel/Lingkarkaltim)
Wakil Bupati Berau, Gamalis.(Nadzriel/Lingkarkaltim)
banner 468x60

BERAU, LINGKARKALTIM:  Kuliner tradisional bukan sekadar warisan budaya yang perlu dijaga, tetapi juga memiliki potensi untuk menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat. Karena itu, makanan khas Berau diharapkan tidak hanya hadir dalam festival atau perlombaan, tetapi juga dapat dinikmati wisatawan dalam keseharian, termasuk melalui menu sarapan di hotel.

Harapan tersebut disampaikan Wakil Bupati Berau, Gamalis kepada Lingkarkaltim belum lama ini.

Read More
banner 300x250

Ia mendorong hotel-hotel di Kabupaten Berau untuk mulai memberikan ruang bagi kuliner tradisional daerah, salah satunya Bubur Ancur Padas, agar semakin dikenal oleh tamu yang berkunjung ke Bumi Batiwakkal.

Menurut Gamalis, sektor perhotelan dapat mengambil peran dalam memperkenalkan kekayaan kuliner lokal kepada wisatawan. Dengan menghadirkan makanan tradisional sebagai pilihan menu sarapan, hotel tidak hanya menyediakan layanan penginapan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya mempromosikan identitas daerah.

“Ke depan, harapan kami hotel-hotel bisa menyiapkan sarapan pagi dengan makanan tradisional kita. Dengan begitu, wisatawan atau tamu yang datang ke Berau juga bisa mengenal makanan khas daerah,” ujarnya.

Selama berkunjung ke suatu daerah, wisatawan tidak hanya mencari keindahan alam maupun destinasi unggulan. Pengalaman mencicipi makanan khas setempat juga dapat menjadi bagian dari perjalanan yang memberikan kesan tersendiri.

Di sinilah kuliner tradisional memiliki peluang untuk mengambil peran lebih besar. Makanan khas daerah dapat menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal budaya, kebiasaan, serta kekayaan lokal yang dimiliki Berau.

Bubur Ancur Padas pun diharapkan tidak hanya dikenal masyarakat setempat atau muncul ketika kegiatan tertentu berlangsung. Melalui promosi yang berkelanjutan, kuliner tradisional tersebut berpeluang menjangkau lebih banyak orang, termasuk wisatawan dari luar daerah.

Lebih dari sekadar pelestarian budaya, pengembangan kuliner lokal juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Apabila hotel mulai menyediakan makanan tradisional sebagai bagian dari menu mereka, peluang kerja sama dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat terbuka. Mulai dari pengolah makanan hingga pemasok bahan baku lokal berpotensi terlibat dalam rantai usaha tersebut,”katanya.

Namun, pengembangan ini tentu membutuhkan dukungan dan kerja sama berbagai pihak, termasuk pelaku usaha kuliner dan sektor perhotelan. Konsistensi penyediaan produk, kualitas makanan, serta pengelolaan usaha menjadi bagian penting agar kuliner tradisional dapat berkembang secara berkelanjutan.

Gamalis menilai, keberadaan makanan tradisional di hotel maupun destinasi wisata juga dapat memperkuat promosi identitas kuliner Berau. Dengan demikian, upaya pelestarian tidak berhenti pada pengenalan budaya, tetapi juga membuka kesempatan bagi kuliner lokal untuk berkembang menjadi produk usaha. “Di sisi lain, keberadaan makanan tradisional di hotel dan destinasi wisata juga dapat memperkuat promosi identitas kuliner Berau,” katanya.

Semangat untuk menjaga eksistensi kuliner tradisional Berau turut diwujudkan melalui Lomba Ancur Paddas dan Puncak Rasul. Kegiatan tersebut diikuti peserta dari kategori organisasi perangkat daerah (OPD) dan umum. Lomba kuliner tradisional menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan makanan khas daerah sekaligus menjaga agar warisan kuliner tetap dikenal oleh masyarakat lintas generasi.

Meski demikian, bagi Gamalis, pelestarian kuliner tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan festival atau perlombaan. Diperlukan langkah lanjutan agar makanan tradisional tetap hadir di tengah masyarakat dan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai usaha.

Ia berharap momentum kegiatan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk tidak hanya mempertahankan keberadaan kuliner khas Berau, tetapi juga melihat potensi ekonominya. “Ini bagian dari upaya kita untuk melestarikan kuliner khas Berau. Jangan sampai hanya muncul ketika ada kegiatan atau festival, tetapi bagaimana kuliner ini juga bisa dikembangkan menjadi usaha,” tegas Gamalis.

Pernyataan tersebut menggaris bawahi pentingnya keberlanjutan dalam upaya pelestarian kuliner daerah. Festival dapat menjadi sarana pengenalan, tetapi pengembangan usaha dan perluasan pasar diperlukan agar makanan tradisional memiliki ruang untuk terus bertahan.

Salah satu peluang yang dapat dijajaki ialah memperkenalkan kuliner lokal melalui sektor perhotelan. Jika dapat diwujudkan secara konsisten, hotel berpotensi menjadi salah satu tempat bagi wisatawan untuk mengenal makanan khas Berau tanpa harus menunggu berlangsungnya festival.

Langkah ini juga dapat membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan produk kuliner tradisional dengan jangkauan pasar yang lebih luas.Pada akhirnya, menjaga kuliner khas Berau bukan hanya tentang mempertahankan resep dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Upaya tersebut juga berkaitan dengan bagaimana warisan budaya dapat terus hidup, dikenal masyarakat luas, dan memberikan manfaat ekonomi bagi mereka yang melestarikannya.

Bagi Berau, menghadirkan kuliner tradisional di meja sarapan hotel dapat menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan kekayaan budaya lokal dengan kebutuhan industri pariwisata. Dengan dukungan berbagai pihak, Bubur Ancur Padas dan makanan khas lainnya diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan festival, tetapi juga memperoleh tempat dalam pengalaman wisata di Bumi Batiwakkal. (Riel/Advetorial)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *