Karhutla di Muara Kaman Meluas

Kondisi Karhutla di Wilayah Kecamatan Muara Kaman.(Dok.Disdamkarmatan Kukar)
Kondisi Karhutla di Wilayah Kecamatan Muara Kaman.(Dok.Disdamkarmatan Kukar)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi persoalan yang dihadapi Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Karakter lahan gambut yang sulit dijangkau membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan melibatkan banyak pihak.

Camat Muara Kaman, Nadi Baswan, mengatakan wilayahnya memiliki 20 desa yang tersebar cukup luas. Untuk mempercepat penanganan Karhutla, pihak kecamatan telah membagi wilayah pemantauan dan penanganan ke dalam empat posko.

Read More
banner 300x250

Menurut Nadi, pemadaman di lahan gambut memiliki tantangan tersendiri. Selain akses yang sulit, kondisi tanah yang dalam membuat petugas kesulitan menjangkau sumber api.

“Kalau di lahan gambut ini dekat memang dari sungai, tetapi kalau kita terjun, bisa sepinggang karena lumpurnya cukup dalam. Kalau api belum sampai ke kampung atau permukiman, kami tangani semaksimal mungkin. Kalau sudah mendekati permukiman, kami langsung prioritaskan,” ujarnya Kamis (24/9/2026).

Ia menjelaskan, api di lahan gambut tidak selalu terlihat di permukaan. Meski kobaran telah dipadamkan, bara api dapat tetap menyala di bagian bawah tanah dan kembali muncul ke permukaan.

“Namanya gambut, mati di atas, di bawah masih makan. Kalau tidak digali sampai ke bawah, tidak akan benar-benar mati,” jelasnya.

Kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Desa Bukit Jering dan Sedulang. Bahkan, api yang sebelumnya dianggap telah padam kembali muncul dan bergerak mengikuti kondisi angin.

Nadi menyebut titik api juga tersebar di sejumlah lokasi. Di Rantau Hempang, misalnya, terdapat satu titik api besar disertai sejumlah titik api kecil. Sementara di Sedulang, terdapat sedikitnya tujuh titik api yang harus ditangani.

“Api itu bukan hanya yang terlihat oleh kita. Titiknya bisa berbeda-beda karena bara api bisa terbawa angin. Di Rantau Hempang yang besar satu, tetapi yang kecil-kecil juga cukup banyak, bisa tujuh sampai delapan titik,” katanya.

Untuk luasan lahan terbakar, Nadi mengatakan pendataan secara keseluruhan masih sulit dilakukan mengingat luasnya kawasan gambut di Muara Kaman. Namun, salah satu kebakaran terluas terjadi di wilayah Bukit Jering yang diperkirakan mencapai lebih dari 100 hektare.

“Kalau mau dihitung betul-betul, bisa mencapai ribuan hektare. Tetapi memang sulit terlihat dan didata karena kawasan lahan gambut kita sangat luas,” ungkapnya.

Ia menambahkan, hingga saat ini masih terdapat sejumlah titik api yang terus dipantau dan ditangani oleh petugas gabungan. Penanganan Karhutla di Muara Kaman sendiri telah berlangsung hampir satu bulan.

Empat posko yang dibentuk ditempatkan berdasarkan kondisi wilayah dan jalur sungai. Posko di wilayah sungai besar berada di Muara Siran, sedangkan untuk wilayah sungai kecil ditempatkan di Desa Tunjungan. Sementara wilayah bagian atas berada di Desa Bunga Jadi dan bagian bawah di Muara Kaman Ilir.

“Jadi sebelum terjadi luapan besar, kami sudah siapkan penanganan di sana. Kalau ada kejadian, baru kami bantu dan bergerak,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolsek Muara Kaman IPTU Herwin mengatakan personel kepolisian bersama tim gabungan harus berjibaku menangani Karhutla di Desa Sedulang.

Kebakaran yang terdeteksi pada Rabu (23/9/2026) malam tersebut diperkirakan melanda sekitar 10 hektare lahan milik pemerintah.

Setelah menerima informasi mengenai titik api, personel Polsek Muara Kaman langsung melakukan pengecekan ke lokasi dan berkoordinasi dengan unsur terkait untuk mempercepat penanganan.

Namun, proses pemadaman tidak mudah. Titik kebakaran berada di kawasan rawa belukar berduri dengan karakter tanah gambut. Kondisi malam hari juga membuat jarak pandang terbatas, ditambah kepulan asap tebal yang menyulitkan petugas menemukan seluruh titik api.

Penanganan dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Sedulang, MPA Desa Liang Buaya, Damkar Desa Sabintulung, Damkar PT Kencana Group, Damkar PT MKH, perangkat Desa Sedulang serta masyarakat setempat.

Sebanyak 13 unit mesin alkon dan sekitar 90 roll selang berukuran 1,5 inci dikerahkan untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses sekaligus mempercepat proses penyiraman.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Sekitar pukul 01.00 WITA, kobaran api berhasil dipadamkan. Meski demikian, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi.

Penyisiran dan pendinginan kembali dilakukan untuk memastikan tidak terdapat bara api yang masih menyala di dalam tanah gambut dan berpotensi memicu kebakaran kembali.

Hingga pemantauan terakhir, lokasi hanya menyisakan asap dan proses pendinginan masih terus dilakukan.

Selain pemadaman, Polsek Muara Kaman juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun melakukan pembakaran sampah yang dapat memicu kebakaran.

Penanganan Karhutla di Sedulang menunjukkan bahwa pemadaman di kawasan gambut membutuhkan lebih dari sekadar memadamkan kobaran api. Medan yang berat, akses terbatas, jarak pandang minim serta bara yang dapat bertahan di bawah permukaan membuat proses pendinginan dan pemantauan harus dilakukan secara berkelanjutan. (ahk)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *