KUKAR, LINGKARKALTIM: Kapal ponton pengangkut batu bara menabrak rumah warga di RT 3, Desa Loa Duri Ulu, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kamis (22/10/2026) sekitar pukul 15.00 Wita.
Insiden tersebut mengakibatkan sedikitnya empat rumah warga dan dua kelompok perikanan keramba terdampak. Data tersebut masih bersifat sementara berdasarkan hasil pemantauan awal pemerintah desa di lokasi kejadian.
Kepala Desa Loa Duri Ulu, Muhammad Arsyad, mengatakan pihaknya belum memperoleh informasi lengkap mengenai kronologi maupun penyebab pasti insiden tersebut. Namun, berdasarkan informasi awal yang diterimanya, ponton batu bara itu menghantam rumah warga di kawasan RT 3.
“Yang jelas, ada ponton batu bara yang menyinggung rumah warga. Berdasarkan yang kami lihat di lapangan, sementara ada empat rumah yang terdampak dan dua kelompok perikanan keramba,” ujar Arsyad saat dikonfirmasi via telepon Kamis (22/10/2026).
Arsyad menduga insiden tersebut kemungkinan berkaitan dengan kondisi alur sungai yang berkelok. Meski demikian, ia menegaskan penyebab pastinya masih perlu ditelusuri oleh pihak berwenang.
Menurutnya, kawasan tersebut memiliki karakteristik sungai dengan tikungan yang berpotensi menyulitkan manuver kapal ponton, terlebih ketika menghadapi kondisi arus tertentu.
Usai kejadian, warga bersama relawan sempat menghentikan pergerakan kapal untuk kepentingan pengamanan. Kapal kemudian bersandar, sementara pemerintah desa menunggu kedatangan anak buah kapal (ABK) dan perwakilan perusahaan untuk membicarakan dampak kejadian bersama warga.
Aparat keamanan turut mendatangi lokasi, di antaranya Bhabinkamtibmas, personel kepolisian sektor setempat, dan Polisi Air dan Udara (Polairud).
Pemerintah desa berupaya memfasilitasi pertemuan antara warga dan pihak perusahaan guna membahas dampak yang ditimbulkan serta mencari penyelesaian atas insiden tersebut.
Arsyad menyebut kejadian serupa bukan kali pertama terjadi di kawasan Loa Duri Ulu. Menurutnya, tingginya aktivitas lalu lintas kapal di sungai yang berkelok menjadi perhatian tersendiri, terutama karena jalur tersebut juga digunakan masyarakat untuk beraktivitas dan mencari nafkah.
“Ini bukan hanya sekali atau dua kali terjadi. Karena itu, kami berharap pihak berwenang, khususnya syahbandar dan instansi terkait, bisa melakukan evaluasi,” tegasnya.
Ia meminta agar pengawasan pelayaran diperketat, terutama di titik-titik tikungan sungai yang dinilai rawan. Salah satu upaya yang diusulkan adalah penyediaan kapal pandu untuk mengawal ponton yang melintas di kawasan tersebut.
Arsyad menjelaskan, jalur sungai itu tidak hanya dilalui kapal pengangkut batu bara, tetapi juga digunakan nelayan, masyarakat yang beraktivitas sehari-hari, serta kapal penyeberangan yang mendukung mobilitas warga.
Menurutnya, peningkatan pengawasan diperlukan untuk mencegah insiden serupa terulang, terlebih jika sampai menimbulkan korban jiwa.
“Kami berharap pemerintah desa juga dilibatkan dalam evaluasi agar bisa memberikan saran dan masukan. Jangan sampai kejadian seperti ini terus berulang dan nantinya menimbulkan korban jiwa,” pungkasnya. (Ahk)










