Dikepung Asap Karhutla, 27 Sekolah di Samarinda Berlakukan PJJ Tanpa Batas Waktu

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Eko Suprayetno. (Devi/Lingkarkaltim)
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Eko Suprayetno. (Devi/Lingkarkaltim)
banner 468x60

SAMARINDA, LINGKARKALTIM: Memburuknya kualitas udara akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memaksa 27 sekolah jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Samarinda mengalihkan kegiatan belajar mengajar dilakukan dari Rumah. Kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini diberlakukan fleksibel tanpa pembatasan durasi hari hingga kondisi udara kembali aman.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Eko Suprayetno, menegaskan bahwa durasi PJJ sepenuhnya bergantung pada dinamika kualitas udara dan rekomendasi medis dari instansi kesehatan terdekat.

Read More
banner 300x250

Laporan Disdikbud Samarinda mencatat bahwa titik penanganan PJJ saat ini masih terkonsentrasi di kawasan yang paling terdampak paparan asap tebal, yakni Kecamatan Palaran dan Sambutan.

“Pada saat kualitas udara itu masih memburuk dan sangat berbahaya untuk kesehatan anak-anak, sebaiknya sekolah dilakukan PJJ,” tegas Eko, Senin (12/10/2026).

Eko menjelaskan, Disdikbud telah membangun koordinasi lintas sektor bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), BMKG, Dinas Kesehatan, serta pihak sekolah. Kepala sekolah diberikan kewenangan mengambil keputusan PJJ secara independen berbasis rekomendasi teknis Puskesmas setempat.

Skema diskresi ini tidak hanya terpaku pada Palaran dan Sambutan. Jika muncul sebaran titik api baru yang memicu pekatnya kabut asap di kecamatan lain, sekolah di wilayah terdampak diizinkan langsung menghentikan aktivitas tatap muka.

Bagi sekolah yang kawasannya masih relatif aman dan mempertahankan pembelajaran di kelas, Disdikbud menginstruksikan penerapan protokol kesehatan ketat. Siswa diwajibkan mengenakan masker, membatasi kegiatan di luar ruangan, serta memastikan sirkulasi udara di ruang kelas terjaga.

Meski menilai PJJ efektif memangkas risiko paparan asap pada saluran pernapasan anak, Eko mengakui metode belajar daring masih terkendala keterbatasan sarana teknologi, di mana mayoritas guru dan siswa masih bergantung pada perangkat ponsel pintar.

Di samping meminta peran aktif orang tua dalam mengawasi anak selama belajar dari rumah, Eko mengimbau keras masyarakat untuk menghentikan aktivitas pembakaran lahan yang memicu krisis kesehatan publik dan berkonsekuensi pada sanksi pidana. (dev)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *