KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemerintah Desa Loa Kulu Kota, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, terus berupaya memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan sektor pertanian berbasis potensi lokal. Selama tiga tahun terakhir, desa ini konsisten melaksanakan program ketahanan pangan dengan dukungan dana desa yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas lahan sawah, penyediaan sarana pertanian, serta pembinaan kelompok tani.
Kepala Desa Loa Kulu Kota, Mohammad Rizali, mengungkapkan bahwa program ketahanan pangan menjadi prioritas pembangunan desa. Melalui konsep swakelola, pemerintah desa menyalurkan bantuan benih, biaya tenaga kerja, serta alat pertanian seperti traktor dan mesin pengolah tanah untuk mendukung aktivitas petani di lapangan.
“Kami sudah tiga tahun menjalankan program ketahanan pangan dengan sumber dari dana desa. Fokus kami pada penguatan pertanian, mulai dari penyediaan benih hingga bantuan alat. Ada sekitar 49 hektare sawah aktif yang saat ini menjadi penopang kebutuhan pangan masyarakat,” jelas Rizali, Minggu (26/10/2025).
Dari total lahan tersebut, hasil panen padi sebagian besar dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, sementara sisanya dijual guna menggerakkan ekonomi desa. Rizali menyebut pola ini tidak hanya menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga memberikan efek ekonomi langsung kepada petani.
Selain menjaga produktivitas padi, Pemerintah Desa Loa Kulu Kota juga berupaya mengoptimalkan lahan tidur untuk ditanami komoditas pendamping seperti sayuran dan cabai. Menurut Rizali, langkah ini penting agar masyarakat memiliki sumber pangan alternatif dan tidak bergantung pada satu komoditas saja.
“Kami manfaatkan lahan tidur untuk tanaman hortikultura seperti sawi, cabai, dan selada. Ini bagian dari strategi diversifikasi pangan agar ketahanan pangan di tingkat rumah tangga bisa lebih kuat,” ujarnya.
Namun demikian, tantangan utama yang dihadapi petani di Loa Kulu Kota adalah keterbatasan sistem irigasi. Sebagian besar lahan masih mengandalkan curah hujan sehingga panen baru bisa dilakukan dua kali setahun. Untuk itu, pemerintah desa berharap dukungan pemerintah daerah dalam pembangunan jaringan irigasi agar intensitas panen bisa lebih maksimal.
“Lahan kami masih bergantung pada hujan. Dengan adanya dukungan irigasi permanen, produktivitas bisa meningkat. Kami juga terus bekerja sama dengan PPL untuk memastikan pembinaan dan pendampingan petani berjalan efektif,” kata Rizali.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Taufik, menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan berbasis pertanian menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Ia menjelaskan, meskipun luas lahan pertanian di Kukar menurun karena alih fungsi lahan, produktivitas padi justru meningkat, sehingga ketahanan pangan daerah tetap terjaga.
“Dari sisi luas memang berkurang, tapi produktivitas meningkat. Tahun 2024 lalu, Kukar masih berkontribusi sekitar 42 persen terhadap produksi beras Kaltim. Ini menunjukkan semangat petani kita luar biasa,” ujarnya.
Taufik menambahkan, pemerintah daerah bersama Kementerian Pertanian terus memperluas program pemberdayaan petani dan optimalisasi lahan agar hasil panen dapat mencapai potensi maksimal. Dukungan bantuan seperti pupuk, bibit unggul, hingga biaya olah tanah terus digulirkan untuk memperkuat fondasi pertanian di Kukar.
“Arah pembangunan pertanian Kukar hingga 2030 adalah pertanian dalam arti luas, tapi fokusnya tetap pada produktivitas padi dan ketahanan pangan. Dengan sinergi antara pemerintah desa, kabupaten, hingga pusat, kami optimistis Kukar tetap menjadi lumbung beras utama Kalimantan Timur,” pungkasnya. (WAN/ADV)










