Capaian Satu Tahun Asta Cita di Lapas Tenggarong: Dari Ketertiban hingga Ketahanan Pangan

Kepala Lapas Kelas IIA Tenggarong, Suparman. (Dok. Humas Lapas Kelas IIA Tenggarong)
Kepala Lapas Kelas IIA Tenggarong, Suparman. (Dok. Humas Lapas Kelas IIA Tenggarong)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Satu tahun sudah sejak program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto resmi diluncurkan pada 20 Oktober 2024, yang kemudian diturunkan dalam 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto.

Sebagai bagian dari sistem pemasyarakatan nasional, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tenggarong turut menunjukkan komitmen kuat dalam mengimplementasikan visi besar tersebut di tingkat daerah.

Read More
banner 300x250

Kepala Lapas Kelas IIA Tenggarong, Suparman, menjelaskan bahwa seluruh jajarannya aktif berkontribusi dalam berbagai aspek, mulai dari penegakan ketertiban, pengurangan overkapasitas, hingga pemberdayaan warga binaan melalui program ketahanan pangan dan UMKM.

“Kami berupaya agar pelaksanaan Asta Cita dan program akselerasi bisa benar-benar nyata di lapangan. Semua yang kami lakukan berorientasi pada keamanan, kemandirian, dan kontribusi sosial,” ujar dia, Selasa (21/10/2025).

Dalam kurun satu tahun terakhir, Lapas Tenggarong mencatat 49 kali razia kamar hunian, baik secara insidentil, terjadwal, maupun gabungan dengan aparat penegak hukum lainnya.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pencegahan gangguan keamanan dan ketertiban di lingkungan Lapas.

Selain itu, untuk mengatasi masalah overkapasitas hunian, pihak Lapas telah melakukan pemindahan 130 narapidana ke beberapa Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di Balikpapan dan Samarinda.

Pemindahan dilakukan berdasarkan hasil assessment risiko yang memastikan keseimbangan antara keamanan dan hak pembinaan narapidana.

“Pemindahan narapidana dilakukan setelah analisis mendalam terhadap kondisi dan tingkat risiko mereka,” kata Suparman.

Tak hanya itu, sebanyak 434 warga binaan pemasyarakatan (WBP) dinyatakan bebas dalam satu tahun terakhir melalui program Pembebasan Bersyarat (PB) dan Cuti Bersyarat (CB).

Lapas Tenggarong juga menjadi contoh keberhasilan pelaksanaan program ketahanan pangan.

Meski hanya memiliki lahan produktif seluas 500 meter persegi, lembaga ini mampu menghasilkan beragam produk pertanian dan peternakan yang bermanfaat.

Dalam satu tahun terakhir, hasil panen meliputi 95 kilogram telur bebek, 145 kilogram kangkung, 167 kilogram timun, dan 51 kilogram lele, serta sejumlah tanaman produktif lainnya.

“Kami ingin membuktikan bahwa dengan kerja sama dan semangat, lahan terbatas pun bisa produktif,” tuturnya.

Tak berhenti di situ, pihak Lapas juga fokus mengembangkan sektor UMKM binaan dengan berbagai aktivitas, seperti meubelair, barbershop, dan layanan jasa kreatif lainnya.

Dari program ini, Lapas berhasil menghasilkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp15 juta, serta menyalurkan premi Rp22 juta bagi warga binaan yang aktif bekerja.

Langkah inovatif juga diwujudkan melalui proyek perubahan SEHAT (Sinergi Enam Hati) yang diinisiasi pada 14 Oktober 2025.

Melalui kerja sama dengan berbagai mitra strategis, program ini mengusung konsep hexahelix, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, dan masyarakat.

“Kami ingin ketahanan pangan ini tak hanya dirasakan di Lapas, tapi juga memberi manfaat bagi masyarakat Kutai Kartanegara,” jelas dia.

Dalam semangat Asta Cita yang menekankan keadilan sosial, Lapas Tenggarong juga aktif menjalankan program sosial bagi masyarakat sekitar.

Sepanjang tahun, pihaknya telah menyalurkan 180 paket bantuan sosial kepada warga dan keluarga WBP yang membutuhkan.

Langkah ini menjadi bukti bahwa fungsi pemasyarakatan tidak hanya sebatas penegakan disiplin dan pembinaan narapidana, tetapi juga berperan dalam memperkuat solidaritas sosial di masyarakat.

Dengan berbagai capaian tersebut, Lapas Kelas IIA Tenggarong menegaskan komitmennya sebagai lembaga yang adaptif, produktif, dan berorientasi pada transformasi kemanusiaan, sejalan dengan arah pembangunan nasional melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

“Kami akan terus berinovasi dan bersinergi. Karena pemasyarakatan bukan hanya tentang menghukum, tapi juga tentang membangun manusia,” tutup Suparman. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *