Disbudpar Perkenalkan Warisan Bersejarah, Goa Bloyot di Pedalaman Berau Simpan Lukisan Tapak Tangan Berusia 40 Ribu Tahun

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau mengangkat Goa Bloyot sebagai tema stan dalam Berau Expo 2026.(Nadzriel/Lingkarkaltim)
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau mengangkat Goa Bloyot sebagai tema stan dalam Berau Expo 2026.(Nadzriel/Lingkarkaltim)
banner 468x60

BERAU, LINGKARKALTIM: Di kawasan hutan Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, tersimpan peninggalan prasejarah berupa lukisan tapak tangan pada dinding gua yang diperkirakan berusia puluhan ribu tahun. Situs tersebut dikenal sebagai Goa Bloyot, salah satu warisan prasejarah yang menjadi bagian dari kekayaan Geopark Sangkulirang Mangkalihat. Meski menyimpan nilai sejarah yang menarik, keberadaannya masih belum banyak diketahui masyarakat luas.

Kondisi inilah yang mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau mengangkat Goa Bloyot sebagai tema stan dalam Berau Expo 2026. Melalui pameran tersebut, Disbudpar ingin memperkenalkan sisi lain potensi wisata Bumi Batiwakkal, yakni peninggalan prasejarah yang memiliki nilai penting bagi sejarah dan budaya daerah.

Read More
banner 300x250

Lukisan atau cap tangan pada dinding Goa Bloyot diperkirakan berusia antara 35 ribu hingga 40 ribu tahun. Peninggalan tersebut menjadi salah satu keunikan yang ingin diperkenalkan kepada masyarakat sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga warisan bumi untuk generasi mendatang.

Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan pengangkatan Goa Bloyot dalam Berau Expo 2026 merupakan bagian dari upaya memperkenalkan potensi geowisata yang dimiliki Kabupaten Berau dalam kawasan Geopark Sangkulirang Mangkalihat bersama Kabupaten Kutai Timur.

“Goa Bloyot ini memiliki ciri khas tersendiri. Di sana terdapat lukisan atau cap tangan yang diperkirakan berusia sekitar 35 ribu hingga 40 ribu tahun,” ungkap Yudha, Minggu (18/10/2026).

Menurutnya, Berau memiliki kekayaan wisata yang beragam. Selain destinasi bahari yang selama ini menjadi daya tarik, terdapat pula potensi geologi dan peninggalan prasejarah yang layak diperkenalkan lebih luas.

Melalui stan Disbudpar di Berau Expo 2026, masyarakat diharapkan semakin mengenal Goa Bloyot sekaligus memahami bahwa kekayaan daerah tidak hanya dapat dilihat dari keindahan alam, tetapi juga dari peninggalan masa lampau yang menyimpan nilai sejarah.

Bagi sebagian pengunjung Berau Expo 2026, nama Goa Bloyot mungkin masih terdengar asing. Padahal, situs tersebut merupakan salah satu geosite atau situs warisan bumi yang masuk dalam kawasan Geopark Sangkulirang Mangkalihat.

Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Disbudpar Berau, Asri Toldo, mengungkapkan bahwa pengenalan Goa Bloyot menjadi penting karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan maupun lokasi situs tersebut.

Hal itu terlihat dari pertanyaan pengunjung yang mendatangi stan Disbudpar ketika melihat Goa Bloyot diangkat sebagai tema pameran. “Ini menjadi salah satu Geopark Sangkulirang Mangkalihat dan ini memang kita ingin mengenalkan, makanya tadi banyak orang bertanya di mana itu Goa Bloyot,” ungkap Asri, Senin (19/10/2026).

Goa Bloyot berada di kawasan hutan Kampung Merabu, Kecamatan Kelay. Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus berjalan kaki selama kurang lebih satu jam dari area kampung dengan menyusuri kawasan hutan. Lokasinya yang berada di pedalaman menjadi tantangan tersendiri dalam memperkenalkan situs tersebut kepada masyarakat. Karena itu, pameran seperti Berau Expo dapat menjadi sarana untuk menyampaikan informasi mengenai keberadaan Goa Bloyot kepada masyarakat yang belum pernah mengunjunginya.

Melalui langkah ini, Disbudpar ingin memperluas wawasan publik tentang potensi wisata Berau, termasuk kekayaan sejarah yang tersimpan jauh dari kawasan perkotaan. Di balik nilai sejarah dan potensinya sebagai daya tarik wisata, Goa Bloyot juga menyimpan tanggung jawab besar dalam hal pelestarian.

Peninggalan prasejarah seperti lukisan pada dinding gua rentan mengalami kerusakan apabila tidak dijaga dengan baik. Tindakan vandalisme maupun aktivitas yang tidak memperhatikan kelestarian situs dapat mengancam keberadaan peninggalan yang memiliki nilai sejarah tersebut.

Karena itu, upaya memperkenalkan Goa Bloyot perlu berjalan seiring dengan perlindungan dan pengawasan terhadap situs. Asri menegaskan bahwa Goa Bloyot merupakan bagian dari warisan prasejarah yang harus dijaga bersama.“Ini menjadi bagian dari prasejarah kita yang harusnya kita jaga dan kita lestarikan serta lindungi,” tegasnya.

Ia berharap, semakin banyak masyarakat yang mengenal Goa Bloyot, semakin besar pula kesadaran untuk menghargai peninggalan sejarah tersebut. Menurutnya, lukisan yang ditinggalkan manusia pada masa lampau merupakan bagian dari perjalanan kehidupan manusia yang patut dihormati. Jejak tersebut menjadi pengingat bahwa manusia telah mengenal bentuk ekspresi melalui gambar sebelum sistem tulisan seperti yang digunakan saat ini berkembang.

“Kita mengkonsiderasi bahwa ini adalah bagian dari proses yang sudah dilakukan oleh orang zaman dulu. Jadi mereka belum mengenal kata tulisan tapi sudah mengenal gambar dan lain-lainnya dan ini kita harus hargai,” tuturnya. (Riel)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *