BERAU, LINGKARKALTIM: Masyarakat adat Dayak Basap Lebo masih mempertahankan tradisi nugal atau menanam padi sebagai bagian dari kehidupan bersama. Bukan sekadar aktivitas berladang, tradisi ini menjadi ruang untuk merawat semangat gotong royong yang dikenal dengan istilah sengoyun. Namun, di balik kebersamaan yang tetap terjaga, sejumlah ritual leluhur sebelum menanam padi mulai jarang dilakukan generasi muda.
Tokoh Adat Dayak Basap Lebo, Kamay, mengatakan tradisi nugal dilaksanakan setiap tahun dengan melibatkan warga secara bersama-sama, mulai dari proses penanaman hingga masa panen. Bagi masyarakat setempat, kebersamaan menjadi bagian penting dalam menjalankan aktivitas pertanian. Pekerjaan di ladang tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga dilakukan dengan semangat saling membantu.
“Nugal ini menjadi tradisi kami. Di dalamnya ada semangat gotong royong atau sengoyun. Kita selalu bersama-sama mulai dari menanam padi hingga nanti masa panen (potong padi). Ini tradisi khas Dayak Basap Lebo, bahkan masyarakat Dayak pada umumnya,” ujar Kamay.
Nilai kebersamaan tersebut menjadi salah satu warisan yang terus dijaga masyarakat. Melalui nugal, hubungan antarwarga diperkuat sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi adat tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari.
“Kebersamaan masyarakat Dayak Basap Lebo tidak berhenti ketika padi selesai ditanam. Setelah masa panen usai, masyarakat melanjutkan rangkaian kegiatan dengan pesta panen dan syukuran Neppa Pade, yakni tradisi menumbuk padi, yang dipadukan dengan peringatan ulang tahun kampung,”katanya
Kegiatan tersebut juga menjadi momentum mempererat hubungan antarkampung serumpun. Pelaksanaannya diatur secara bergantian agar masyarakat dapat saling berkunjung dan menghadiri perayaan adat tanpa berbenturan jadwal. Kamay menjelaskan, kegiatan Neppa Pade di Kampung Inaran umumnya dilaksanakan pada Juli. Sementara itu, Kampung Merabu menggelarnya pada Mei, disusul kampung lainnya pada Juni. “Kita beriringan dan bergantian bulan supaya acaranya tidak tabrakan. Soalnya kita saling mengundang antarkampung serumpun Dayak Basap, mulai dari Kampung Merabu, Mapulu, Merapun hingga Panaan,” jelasnya.
Kamay mengungkapkan, dahulu kegiatan menanam padi diawali dengan ritual adat, termasuk pemotongan ayam sebagai bagian dari permohonan keselamatan dan kelancaran selama berladang.Namun, menurut dia, ritual tersebut kini mulai jarang dilakukan oleh generasi muda. Sebagian warga memilih langsung memulai kegiatan menanam padi tanpa menjalankan rangkaian ritual seperti yang dilakukan para pendahulu mereka.
“Kalau dulu sebelum tanam padi ada ritual keselamatan. Tapi anak-anak zaman sekarang sudah jarang, langsung tanam saja. Memang zaman sudah canggih dan modern, jadi mungkin hanya satu atau dua orang dari generasi tua yang masih menjalankan ritual tersebut,” tuturnya.
Perubahan itu memperlihatkan tantangan yang dihadapi dalam menjaga keberlanjutan tradisi adat. Di satu sisi, semangat gotong royong dalam nugal masih dipertahankan. Di sisi lain, sejumlah praktik ritual yang dahulu menjadi bagian dari kegiatan berladang mulai berkurang.
Dalam pelaksanaan nugal, laki-laki dan perempuan terlibat bersama tanpa pembatasan peran berdasarkan jenis kelamin. Seluruh warga berpartisipasi sesuai kebutuhan, mencerminkan semangat kekeluargaan yang menjadi bagian dari tradisi tersebut. Selain membantu pekerjaan di ladang, kaum perempuan turut menyiapkan hidangan untuk disantap bersama setelah kegiatan menugal selesai.
Kebiasaan itu memperlihatkan bahwa nilai gotong royong tidak hanya hadir dalam pekerjaan pertanian, tetapi juga dalam kebersamaan yang terbangun selama kegiatan berlangsung. Bagi masyarakat Dayak Basap Lebo, nugal menjadi salah satu cara mempertahankan hubungan sosial sekaligus meneruskan warisan leluhur. Tradisi ini berjalan beriringan dengan pesta panen dan Neppa Pade, yang mempertemukan warga dalam suasana syukur dan kebersamaan.
Di tengah perubahan zaman, tantangannya bukan hanya menjaga agar tradisi nugal tetap dilaksanakan, tetapi juga memastikan generasi muda mengenal nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sebab, keberlanjutan sebuah tradisi tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering kegiatan itu dilakukan, tetapi juga oleh sejauh mana maknanya dipahami dan diwariskan. (Riel)










