KUKAR, LINGKARKALTIM: Taman Kanak-Kanak (TK) Negeri 03 Tenggarong, yang berlokasi di Jalan Gunung Gandek, Kelurahan Melayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), berkomitmen memberikan kesempatan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) dan anak penyandang disabilitas.
Kepala TK Negeri 03 Tenggarong, Fitriyani Sabariah, mengatakan pihak sekolah terbuka menerima peserta didik berkebutuhan khusus. Ia menegaskan, setiap anak berhak memperoleh kesempatan belajar sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya.
“Kami sangat menerima anak-anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas dengan surat keterangan dokter, sesuai anjuran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara,” ujarnya saat ditemui Lingkarkaltim.com di tempat kerjanya, Kamis (15/10/2026).
Fitriyani mengungkapkan, salah satu tantangan yang dihadapi sekolah adalah keterbukaan orang tua dalam menyampaikan kondisi anak sejak awal. Menurutnya, sebagian orang tua masih mengalami kesulitan untuk menginformasikan kondisi anak yang memerlukan pendampingan khusus.
Padahal, informasi tersebut penting agar pihak sekolah dapat mempersiapkan proses pembelajaran dan menentukan bentuk pendampingan yang sesuai. Meski guru dapat mengamati karakteristik anak selama kegiatan belajar, pihak sekolah tidak dapat menetapkan kondisi khusus seorang anak hanya berdasarkan pengamatan tersebut.
“Kami tidak bisa memberi label bahwa anak ini berkebutuhan khusus jika orang tuanya sendiri belum menyampaikan kondisi anaknya,” jelasnya.
Ia berharap orang tua dapat menyampaikan informasi mengenai kondisi anak secara terbuka sejak proses penerimaan peserta didik. Dengan demikian, sekolah dapat melakukan persiapan lebih awal untuk memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Fitriyani menjelaskan, keterlambatan informasi dari orang tua juga dapat memengaruhi persiapan guru dalam mengikuti pelatihan khusus yang diselenggarakan Disdikbud Kukar. Padahal, pelatihan tersebut diperlukan untuk meningkatkan kemampuan tenaga pendidik dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas.
“Kalau orang tua tidak menyampaikan atau terlambat memberi tahu, kami khawatir guru tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri melalui pelatihan. Kami berharap guru-guru di TK Negeri 03 Tenggarong semakin kompeten dalam menangani ABK maupun anak penyandang disabilitas,” ungkapnya.
Selain keterbatasan informasi, Fitriyani menyebut jumlah guru yang memiliki kompetensi khusus dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus masih menjadi tantangan bagi sekolah.
Karena itu, ia berharap dinas terkait memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan tenaga pendidik di TK Negeri 03 Tenggarong maupun sekolah inklusif lainnya di wilayah Kukar.
“Kami berharap ada perhatian lebih dari dinas terkait, terutama dalam penambahan guru yang kompeten atau telah mengikuti pelatihan untuk mendampingi siswa yang membutuhkan perhatian dan pendampingan lebih intensif,” tutupnya.(ahk/*far)










