JAKARTA, LINGKARKALTIM: Pusat Pembinaan Analis Kerja Sama Kementerian Sekretariat Negara (Pusbin AKS Kemensetneg) menutup Pelatihan Fungsional AKS 01 – Analisis Program Kerja Sama Batch 2 pada Jumat (09/10/2026). Pelatihan intensif yang berlangsung selama lima hari sejak 5 hingga 9 Oktober 2026, di Gedung Pusat Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (PPKASN), Jakarta, ini diikuti oleh 30 Pegawai Negeri Sipil (PNS) pemangku Jabatan Fungsional Analis Kerja Sama (JFAKS) dari berbagai instansi pusat dan daerah.
Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya Pusbin AKS Kemensetneg untuk memperkuat kompetensi dan profesionalitas JFAKS dalam mendukung pengelolaan kerja sama yang efektif, strategis dan berkelanjutan. Dalam penyelenggaraannya, Pusbin AKS bekerja sama dengan Parahyangan Center for International Studies (PACIS) Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) sebagai mitra dalam penyusunan modul dan penyediaan tenaga pengajar.
Dalam sambutannya, Kepala Pusbin AKS Kemensetneg, Andri Kurniawan, menyampaikan bahwa hasil evaluasi menunjukkan pelatihan telah sesuai dengan kebutuhan peserta dan adanya peningkatan kemampuan setelah proses pembelajaran. Hasil tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Pusbin AKS dalam mengembangkan program peningkatan kompetensi JFAKS ke depan.
“Selama pelatihan, kita tidak hanya berbicara tentang konsep dan regulasi, tetapi juga belajar melihat kebutuhan secara lebih kritis, menggunakan data sebagai dasar analisis, memahami kepentingan berbagai pihak, serta mempertimbangkan risiko dan manfaat. Dengan demikian, kerja sama yang dirancang diharapkan benar-benar relevan dan memberikan hasil,” ujar Andri.
Andri menegaskan bahwa peran JFAKS tidak terbatas pada pelaksanaan administrasi kerja sama, tetapi juga mencakup penyusunan analisis, evaluasi kritis, dan rekomendasi kebijakan yang berkualitas untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi.
“Seorang JFAKS harus mampu berpikir analitis, kritis, dan strategis dalam mengelola kerja sama. Sepulangnya ke instansi masing-masing, kami berharap ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan, diuji, dan disesuaikan dengan kebutuhan konteks pekerjaan. Kualitas seorang JFAKS akan terlihat dari ketajaman analisis dan kualitas rekomendasi yang dihasilkan,” tegas Andri.
Sementara itu, Ketua Pusat Studi Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Yulius Purwadi Hermawan, menyampaikan selamat kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan pelatihan. Ia juga mengapresiasi Pusbin AKS Kemensetneg atas kepercayaan yang diberikan kepada PACIS Unpar untuk berkolaborasi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Saya sangat mengapresiasi dedikasi para peserta selama mengikuti proses pembelajaran. Saya berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat ditularkan di lingkungan kerja masing-masing guna memperkuat kapasitas kelembagaan,” ujar Yulius.
Selama pelatihan, peserta memperoleh pembekalan melalui penyampaian materi, diskusi, dan praktik analisis. Rangkaian pembelajaran tersebut dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam menyusun analisis secara sistematis, terukur, dan berbasis data guna mendukung pengambilan keputusan serta koordinasi kerja sama antarlembaga.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu menerapkan kompetensi yang diperoleh untuk menghasilkan analisis program kerja sama dan rekomendasi yang berkualitas, sehingga pelaksanaan kerja sama di instansi masing-masing dapat berjalan lebih efektif, terarah, dan memberikan manfaat strategis bagi organisasi.
(Sumber: setneg.go.id)










