KUKAR, LINGKARKALTIM: Road Show Pelatihan Kewirausahaan Daur Ulang Sampah yang digelar di SMA Negeri 2 Tenggarong menjadi salah satu pendorong tumbuhnya ekonomi sirkular berbasis sekolah.
Pimpinan EO Sinar Intan, Heny Amiroeddin menjelaskan bahwa workshop ini lahir dari keprihatinan terhadap penggunaan bahan kerajinan yang selama ini banyak didatangkan dari luar daerah.
“Kami melihat banyak produk kerajinan menggunakan bahan dari luar, seperti kain flanel yang tidak diproduksi di sini. Karena itu, kami mendorong pemanfaatan bahan daur ulang dari sampah sekitar untuk diproduksi masyarakat lokal,” ucap dia, Kamis (12/2/2026).
Ia menjelaskan, pendekatan ini bertujuan membangun ekosistem ekonomi sirkular. Bahan baku berasal dari lingkungan sekitar, diproduksi oleh masyarakat yang telah dilatih, lalu hasilnya digunakan kembali oleh masyarakat setempat. Dengan demikian, nilai ekonomi berputar di daerah sendiri.
Dari sisi jangkauan, program ini telah melibatkan hampir 10 ribu guru di Kaltim. Khusus di Kutai Kartanegara, sejak 2017–2018 tercatat hampir 2.000 guru mengikuti pelatihan serupa.
Pelatihan dilakukan secara roadshow ke kecamatan-kecamatan, bukan terpusat di ibu kota kabupaten. Strategi ini dipilih agar lebih banyak guru menerima transfer pengetahuan tanpa harus menanggung biaya perjalanan.
“Kami yang mendatangi mereka. Dengan begitu jangkauan pelatihan lebih luas dan efektif,” jelas Heny.
Hasil karya para siswa akan ditampilkan pada pameran daring secara lebih luas, bahkan dapat menjangkau hingga tingkat nasional dan internasional.
Pameran tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi siswa untuk memanfaatkan media sosial secara positif dan produktif.
Dia menyebut potensi ekonomi dari program ini cukup menjanjikan. Produk hasil daur ulang yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, setelah diolah secara kreatif mampu memiliki nilai guna dan estetika tinggi.
Beberapa produk bahkan telah digunakan untuk tamu VVIP, ditampilkan pada perhelatan MTQ Nasional ke-30, dipajang di ruang-ruang DPRD Kukar, serta perkantoran di Samarinda.
Selain itu, pihaknya juga telah memperoleh rekomendasi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk memperkenalkan produk-produk tersebut kepada sekitar 150 perusahaan di Kukar, agar perusahaan dapat menggunakan produk lokal sebagai bentuk dukungan terhadap karya masyarakat daerah.
Ia menegaskan, EO Sinar Intan tidak bertindak sebagai produsen, melainkan sebagai pelatih, pendamping, dan fasilitator pemasaran.
Dengan begitu, akan tumbuh puluhan usaha baru berbasis daur ulang sampah yang dikelola masyarakat secara mandiri.
Meski demikian, tantangan terbesar terletak pada perubahan pola pikir masyarakat dalam memandang sampah sebagai peluang ekonomi. Proses ini membutuhkan edukasi berkelanjutan dan konsistensi.
“Dengan edukasi yang terus-menerus, kami yakin masyarakat akan semakin sadar bahwa sampah bisa menjadi sumber penghasilan dan pundi-pundi ekonomi,” tutupnya. (ASR)










