KUKAR, LINGKARKALTIM: PT REA Kaltim Plantations mulai menjalankan program plasma produktif sebagai solusi bagi desa-desa yang tidak lagi memiliki ketersediaan lahan plasma.
Program tersebut menjadi bagian dari kerja sama antara perusahaan, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk memastikan hak ekonomi masyarakat tetap terpenuhi meskipun keterbatasan lahan menjadi kendala utama.
Presiden Direktur PT REA Kaltim Plantations, Luuk M. D. Robinow menjelaskan bahwa program tersebut hadir sebagai alternatif bagi wilayah yang tidak memungkinkan pembangunan kebun plasma secara konvensional.
Menurutnya, di sejumlah wilayah operasional perusahaan, lahan yang dapat dialokasikan untuk plasma sudah sangat terbatas.
“Ini menjadi kesempatan pertama bagi Kecamatan Kembang Janggut, dan kami berharap dapat berjalan sukses serta mendapatkan persetujuan dari BPN,” ucap dia, Rabu (11/2/2026).
Ia menjelaskan, meskipun tidak berbentuk kebun plasma langsung, nilai manfaat yang diterima masyarakat tetap disesuaikan dengan skema plasma.
Dalam kerja sama ini, masyarakat tetap memperoleh kemitraan dengan masa kerja sama selama 25 tahun, dengan estimasi nilai manfaat sekitar Rp30 juta per hektar.
Selain itu, perusahaan juga memberikan dukungan fasilitas bagi desa, termasuk bantuan alat berat serta desain pengelolaan usaha yang telah disiapkan guna memastikan program berjalan efektif dan berkelanjutan.
Dia mengatakan, pola kerja sama ini tidak akan menggantikan sepenuhnya sistem plasma konvensional.
Skema plasma tetap digunakan apabila ketersediaan lahan memungkinkan. Namun, untuk wilayah yang lahannya terbatas, sistem plasma produktif menjadi alternatif yang dinilai lebih realistis.
“Ke depan, sistem ini juga akan diterapkan di wilayah lain yang mengalami kekurangan lahan plasma. Setelah Kembang Janggut, wilayah Tabang juga direncanakan menerapkan pola serupa,” jelas Luuk.
Sementara itu, Direktur Sustainability PT REA Kaltim Plantations, Dr. Bremen Yong menegaskan bahwa program plasma produktif merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan usaha sekaligus memastikan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Menurutnya, keberlanjutan perusahaan tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Ia mengungkapkan, program tersebut juga sejalan dengan konsep hilirisasi dan pengembangan ekonomi desa, kemitraan tidak hanya berbasis pada pengelolaan lahan, tetapi juga melalui bentuk usaha lain yang mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.
Melalui pelaksanaan program plasma produktif ini, perusahaan bersama pemerintah daerah berharap masyarakat tetap memperoleh manfaat ekonomi yang setara dengan plasma kebun, sekaligus menciptakan model kemitraan baru yang dapat diterapkan di wilayah lain dengan kondisi serupa.
“Kalau perusahaan ingin berkembang, masyarakat dan desa juga harus berkembang bersama. Program ini memastikan hak masyarakat tetap terpenuhi sekaligus menjaga keberlanjutan penghidupan masyarakat,” tutup Bremen. (ASR)










